Minum Boba Dua Kali Sehari, Gadis Ini Alami Koma Selama Lima Hari, Hati-hati Gaes!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Minuman milk tea atau kopi dengan Topping boba memang belakangan ini menjadi minuman hist di kalangan anak muda.

Namun, tahukah Anda ternyata ada bahaya mengancam jika minuman boba ini dikonsumsi secara berlebih. Salah satunya yang sempat viral, dimana seorang wanita yang menyetok boba untuk persediaan. Namun hal itu malah berujung tragis.

Wanita asal Shanghai, Cina ini terbaring koma usia mengonsumsi boba secara berlebihan.

Menurut Mothership, wanita berusia 18 tahun yang dirahasiakan identitasnya itu meminum boba dua kali sehari selama satu bulan.

Hal itu lantas membuatnya terbaring koma selama lima hari. Menurut staf medis penyebab ia bisa koma karena gula darah yang tinggi.

Setelah diperiksa, kadar gula wanita berbobot 125 kilogram itu 25 kali lebih tinggi dari orang normal.

Dilaporkan juga bahwa wanita itu mengalami gejala mulut kering, mual, dan bahkan poliuria yakni keinginan untuk sering buang air kecil dan itu terjadi lebih dari seminggu sebelum koma.

Setelah serangkaian tindakan penyelamatan seperti intubasi trakea, ventilasi mekanis, resusitasi cairan, dan hemodialisis, wanita itu kembali sadar.

Keadaanya pun kembali membaik. Selama perawatan wanita itu juga disebutkan kehilangan bobotnya sebanyak 35 kilogram.

Saat ini ia sedang melakukan perawatan untuk pemulihan. Ia pun mengaku kapok dan tak ingin lagi meminum minuman kekinian itu lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kolaborasi Lintas Sektor Mempercepat Listrik Desa

Oleh : Antonius UtomoDi era peradaban modern saat ini, ketersediaan energi listrik telah melampaui fungsinya sebagaisekadar sumber penerangan semata. Khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal(3T), listrik merupakan infrastruktur dasar sekaligus prasyarat utama bagi terwujudnya keadilansosial, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, dan akselerasitransformasi digital. Oleh karena itu, perluasan akses kelistrikan hingga ke pelosok desa bukansekadar program pembangunan biasa, melainkan agenda strategis nasional yang mendesakdiselesaikan demi memastikan tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal dalam aruskemajuan zaman.Capaian pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) patutdiapresiasi secara memadai. Berdasarkan data terbaru, rasio elektrifikasi di Indonesia berhasilmenyentuh angka 99,83 persen pada triwulan pertama tahun 2026. Meski secara statistik makropencapaian tersebut menunjukkan keberhasilan yang sangat signifikan, sisa persentase sebesar0,17 persen sama sekali tidak boleh diabaikan. Angka tersebut pada hakikatnyamerepresentasikan masyarakat di wilayah geografis yang penuh tantangan, mulai pegununganterpencil hingga pulau terluar, yang masih menantikan kelistrikan. Hal ini menuntut kehadirannegara secara utuh untuk memastikan pemerataan pembangunan, menembus batas isolasi yang menghambat perbaikan tingkat kesejahteraan mereka.Langkah proaktif untuk menjangkau wilayah-wilayah tersulit tersebut terefleksikan dengansangat jelas dalam penyelenggaraan Alignment Forum Program Listrik Desa pada bulan Juli...
- Advertisement -

Baca berita yang ini