Militer Filipina Intimidasi Kapal Cina di Laut Cina Selatan

Baca Juga

MATA INDONESIA, MANILA – Militer Filipina mengirim pesawat tempur ringan untuk mengintimidasi ratusan kapal Cina yang berada di perairan yang dipersengketakan, Laut Cina Selatan.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana mengatakan, sejumlah jet tempur dikirim ke terumbu karang di wilayah Whitsun yang masuk dalam Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Filipina.

Pesawat militer Filipina dikirim setiap hari untuk memantau situasi. Lorenzana menambahkan, Filipina akan meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Laut Cina Selatan untuk melakukan patrol kedaulatan dan melindungi para nelayannya.

“Aset udara dan laut kami siap untuk melindungi kedaulatan dan hak kedaulatan,” tegas Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, melansir Reuters.

Kedutaan Besar Cina di Manila menyatakan bahwa sejumlah kapal nelayan yang berada di wilayah terumbu karang, Whitsun hanyalah kapal penangkap ikan yang berlindung dari gelombang laut yang ganas dan tidak ada milisi atau aparat keamanan di dalam kapal tersebut.

Presiden Rodrigo Duterte menegaskan kembali kepada Duta Besar Cina, Huang Xilian bahwa Filipina telah memenangkan kasus arbitrase penting tahun 2016, yang memperjelas kedaulatannya di tengah klaim Beijing.

Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, serta Negeri Tirai Bambu dan Taiwan turut mengklaim terorial di Laut Cina Selatan merupakan jalur kunci perdagangan dunia, di mana 25 persen arus pelayaran dunia melewati jalur tersebut dengan valuasi barang mencapai angka 3,4 triliun dolar AS.

Jelas lah, bila kemudian wilayah perairan tersebut menjadi magnet bagi negara-negara yang memiliki visi perdagangan dan pertahanan. Tak mengherankan juga, bila kemudian perseteruan akan siapa penguasa Laut Cina Selatan tak kunjung usai, terutama antara Amerika Serikat dan Beijing.

Bukan rahasia bila AS dan Cina kini terlibat dalam persaingan sengit memperebutkan pengaruh di wilayah Asia Tenggara, sehingga Laut Cina Selatan yang merupakan wilayah potensial, menjadi hotspot persaingan global kedua negara super power tersebut.

Wajar pula bila rasa khawatir kemudian menghampiri negara-negara ASEAN, pasalnya isu Laut Cina Selatan berpeluang menimbulkan gejolak regional di kawasan Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, konstelasi global tersebut tentu berimbas ke negara-negara ASEAN. Sengketa ini juga dianggap membahayakan stabilitas keamanan nasional Indonesia, meski Indonesia tidak termasuk negara yang melakukan klaim atas wilayah tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Perjuangkan Kesejahteraan Buruh dan Petani, Dani Eko Wiyono Siap Maju Calon Bupati Sleman Melalui Jalur Independen

Mata Indonesia, Sleman - Alumni aktivis 98 sekaligus aktivis yang selalu menyuarakan aspirasi buruh/pekerja Daerah Istimewa Yogyakarta, Dani Eko Wiyono ST. MT ini bertekad maju bakal calon bupati Sleman dalam Pilkada Sleman nanti. Dani menilai, hingga saat ini, mayoritas kehidupan buruh masih sangat jauh dari kata sejahtera. Buruh masih dianggap hanya sebagai tulang punggung ekonomi bangsa tanpa diperjuangkan nasib hidupnya.
- Advertisement -

Baca berita yang ini