Menag: Pandemi Ini Ajarkan Keseimbangan Spiritual dan Sosial

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyampaikan khutbahnya saat menjadi khatib dalam salat Idul Fitri pada 24 Mei 2020. Ia menyebut pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia saat ini mengajarkan pentingnya keseimbangan spiritual dan sosial.

“Pandemi ini mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa yang memiliki keseimbangan antara spiritual vertikal dengan kesalehan sosial,” kata Fachrul dalam khutbahnya di Jakarta.

Fachrul mengakui, ada perbedaan besar dalam perayaan Idul Fitri tahun ini dibanding sebelum-sebelumnya. Umat Islam jadi lebih banyak menjalani ibadah di rumah saja selama Ramadan, bahkan sampai salat Idul Fitri.

“Dengan iringan doa minal ‘aidin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga kita tergolong orang-orang yang kembali kepada jati diri kemanusiaan kita, menang mengendalikan hawa nafsu dan memberikan manfaat kepada sesama. Semoga Allah menerima dan memberkahi seluruh amal ibadah dan kehidupan kita. Aamiin,” ujar Menag.

Kepada keluarganya dan umat Islam Indonesia, Menag berpesan agar Idul Fitri bisa dijadikan momentum meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

“Mari terus saling bantu dan berbagi. Semoga Indonesia segera terbebas dari pandemi Covid-19,” kata Menag menambahkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini