Mau Meletus, Pendaki Wajib Tahu Cerita Legenda dari Gunung Semeru

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTAGunung Semeru kembali erupsi pada Sabtu 4 Desember 2021. Gunung merapi aktif itu menyemburkan abu vulkanik hingga membuat awan gelap di Lumajang, Jawa Timur.

Pada tahun ini, Gunung Semeru sudah erupsi dua kali. Pertama terjadi pada pertengahan Januari 2021. Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sempat menutup jalur untuk para pendaki yang ingin menikmati pemandangan indah di kawasan Gunung Semeru.

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang menyimpan keindahan luar biasa. Meski gagah dan indah, berbagai kisah horornya pun terkenal di kalangan pendaki, Ini cerita yang melegenda di gunung Semeru mengutip dari berbagai sumber.

1. Arcopodo

Kawasan Arcopodo biasanya dijadikan tempat beristirahat favorit para pendaki, karena tanahnya yang datar dan luas. Menurut para pendaki, terdapat dua arca prajurit Kerajaan Majapahit di sini yang hanya bisa dilihat orang tertentu.

Mereka dipercaya sebagai penjaga Gunung Semeru. Ukuran arcanya sangat besar. Namun, ada pula pendaki yang mengaku melihat arcanya berukuran kecil.

2. Kawasan Kelik

Di Kawasan Kelik ini, ada banyak batu in memoriam untuk mengenang para pendaki yang meninggal saat mendaki Gunung Semeru. Salah satunya batu dengan tulisan Soe Hok Gie yang meninggal dunia selama pendakian.

Sekilas tampak tak menakutkan, tetapi ada banyak kejadian horor yang dialami pendaki. Beberapa pendaki sering mengalami kesurupan makhluk gaib yang sosoknya menyerupai binatang.

3. Puncak Mahameru

Mahameru merupakan sebutan puncaknya Gunung Semeru sebagai titik tertinggi di Tanah Jawa. Sesampainya di puncak, kamu akan melihat cantiknya keindahan seluruh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Di balik keindahannya, menurut warga sekitar, puncak gunung ini dijadikan tempat berkumpulnya para dewa. Kalau ingin mendengar suara dewa, konon kamu harus semedi beberapa bulan.

4. Ranu Kumbolo

Saat mengunjungi Gunung Semeru, Ranu Kumbolo menjadi lokasi yang wajib dikunjungi. Di balik keindahannya, ada kisah horor yang menyelimutinya.

Kabarnya, danau ini dihuni sosok dewi berpakaian kebaya kuning. Ternyata, ia suka menjelma menjadi ikan emas besar, sehingga muncul larangan untuk memancing di kawasan ini.

5. Kali Mati

Kali Mati merupakan padang rumput seluas 20 hektare yang dipenuhi bunga edelweis dan pohon cemara. Biasanya digunakan sebagai lokasi mendirikan tenda, karena tanahnya yang datar.

Di balik kecantikan kawasan ini, ada kisah seorang pendaki yang hampir meninggal dunia. Ia mendadak pingsan kedinginan, kemudian merasa nyawanya terbang. Anehnya, ada sosok gaib yang membangunkannya, lalu dipeluk sampai terbangun kembali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini