Mastercard dan Visa Tak Bisa Digunakan Lagi di Rusia

Baca Juga

MATA INDONESIA, MOSKOW – Sejumlah perusahaan Amerika memutuskan berhenti beroperasi di Rusia. Salah satunya adalah Mastercard dan Visa.  Keputusan ini imbas dari invasi Rusia ke Ukraina.

Mengutip CNN, Minggu 6 Maret 2022, Mastercard dan Visa mengungkapkan penangguhan operasi itu karena situasi konflik yang belum pernah terjadi serta ketidakpastian ekonomi di Rusia.

Mastercard dan Visa, yang telah beroperasi di Rusia selama lebih dari 25 tahun, mengatakan bahwa kartu dari bank Rusia tak lagi mendapat dukungan jaringan Mastercard.

”Rekan kami, pelanggan kami, dan mitra kami telah terpengaruh dengan cara yang tidak dapat kami bayangkan, keputusan ini mengalir dari tindakan kami baru-baru ini untuk memblokir beberapa lembaga keuangan dari jaringan pembayaran Mastercard, seperti yang dipersyaratkan oleh regulator secara global.”

Perusahaan pembayaran yang memiliki ratusan karyawan di Rusia ini menambahkan bahwa kartu Mastercard apa pun tidak akan berfungsi di merchant ataupun ATM Rusia.

Demikian juga dengan Visa. Perusahaan kartu kredit ini memberhentikan semua transaksi dan operasi Visa di negara itu. ”Semua transaksi dengan kartu Visa keluaran Rusia tidak akan berfungsi di luar negeri. Dan kartu Visa apa pun dari lembaga keuangan di luar Rusia tidak akan lagi berfungsi di wilayah Federasi Rusia.”

CEO Visa Al Kelly mengaku perusahaannya terpaksa bertindak untuk menanggapi invasi Rusia ke Ukraina. Mastercard dan Visa juga memblokir sejumlah institusi keuangan Rusia dari jaringan transaksinya. Hal ini sesuai sanksi Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya atas invasi Rusia ke Ukraina.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini