Mantap, Perusahaan Start-Up Thailand Kembangkan Vaksin Covid-19 dari Tembakau!

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANGKOK – Para peneliti di dunia masih terus melakukan riset dan mengembangkan vaksin Covid-19 guna mengekang laju penyebaran virus yang telah menelan jutaan jiwa di dunia ini.

Terbaru, Baiya Phytopharm, perusahaan start-up asal Thailand berencana mengembangkan vaksin Covid-19 berbasis tanaman. Menariknya tanaman yang digunakan adalah tembakau!

Start-up yang didirikan oleh Dr. Suthira Taychakhoonavudh dan Dr. Waranyoo Phoolcharoen sedang mengerjakan vaksin Covid-19 menggunakan daun tanaman tembakau Australia.

Suthira, seorang dosen berusia 37 tahun di Universitas Chulalongkorn, mengatakan bahwa ia dan tim ilmuwannya ingin membuat perbedaan dalam mengubah Thailand dari importir vaksin menjadi pembuat vaksin.

Untuk diketahui, Baiya adalah perusahaan Thailand pertama yang memasuki CU Innovation Hub universitas, sebuah pusat penelitian untuk perusahaan rintisan, untuk mengembangkan teknologi untuk memproduksi protein rekombinan yang dapat menghasilkan obat-obatan dan vaksin.

Start-up berusia tiga tahun ini didanai oleh hibah dari Alumni Universitas Chulalongkorn dan pemerintah Thailand dan telah mengumpulkan sekitar dana  3 juta USD dari latihan crowdfunding.

Perusahaan menyelesaikan uji coba manusia fase satu dari vaksin Covid-19 berbasis tanaman pada Desember tahun lalu. Sejauh ini, tidak ada vaksin Covid-19 yang terbuat dari bahan nabati, meskipun setidaknya satu vaksin lain selain Baiya sedang dikembangkan.

“Sejauh ini, yang kami tahu adalah … semua sukarelawan selamat. Dan melihat profil keamanannya, kami sangat senang,” kata Suthira, melansir CNBC, Senin, 17 Januari 2022.

Namun, Suthira mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan tingkat keefektifannya, tetapi tujuannya adalah menggunakan vaksin yang tersedia sebagai patokan.

Uji coba fase dua dimulai pada Februari dan uji coba fase tiga pada Juni. Ia berharap untuk menyerahkan data ke Administrasi Makanan dan Obat Thailand untuk persetujuan vaksin Covid-19 pada kuartal ketiga atau keempat tahun ini.

“Saat ini fasilitas kami dapat memproduksi sekitar lima juta dosis vaksin per bulan, yaitu sekitar 60 juta dosis vaksin per tahun,” sambung Suthira, menambahkan bahwa fasilitas produksi yang sama akan mampu memproduksi vaksin tidak hanya untuk Thailand tetapi juga untuk kawasan.

Baiya ingin menunjukkan bahwa Thailand dapat menemukan vaksin baru dan obat baru untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakatnya sendiri, katanya. Perusahaan menggunakan tanaman tembakau yang sama untuk mengembangkan obat anti kanker dan perawatan anti penuaan.

“Dan kami ingin menjadikan produk farmasi yang kami hasilkan menjadi produk yang terjangkau, tidak hanya bagi masyarakat Thailand tetapi juga bagi masyarakat lain yang tidak memiliki akses terhadap obat-obatan,” tuntasnya.

Sebelumnya, sebuah studi yang dilakukan oleh Oregon State University mengungkapkan bahwa beberapa senyawa ganja dapat mencegah virus yang menyebabkan Covid-19 memasuki sel manusia. Akan tetapi, merokok ganja tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa sepasang senyawa rami – asam cannabigerolic, atau CBGA, dan asam cannabidiolic, CBDA – mengikat protein lonjakan SARS-CoV-2, menghalangi langkah penting dalam jalur serangga mematikan untuk menginfeksi orang.

“Asam cannabinoid ini berlimpah dalam rami dan dalam banyak ekstrak rami,” kata pemimpin peneliti Richard van Breemen di Pusat Inovasi Rami Global Negara Bagian Oregon di College of Pharmacy dan Linus Pauling Institute.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Taklimat Presiden Tegaskan Diplomasi Energi, Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan dan Stabilitas Harga BBM

Oleh: Arya Satrya WibisonoDi tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, pemerintah terus mempertegas arahkebijakan nasional untuk memastikan ketahanan energi dan pangan tetap terjaga. Salah satu buktikonkret dari ketahanan tersebut tercermin pada kebijakan pemerintah yang tetap menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi hargaenergi dunia. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola sektorenergi secara efektif, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melindungi daya belimasyarakat serta menjaga stabilitas sektor pangan yang sangat bergantung pada distribusi danbiaya logistik. Dalam konteks ini, kebijakan pengendalian harga BBM menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk meredam dampak krisis global sekaligus memperkuatfondasi kemandirian nasional.Dalam arahannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pangan, energi, dan air merupakan tigapilar utama yang menentukan keselamatan suatu bangsa. Pandangan ini, sebagaimanadisampaikannya, telah lama diyakini dan diperjuangkan, bahkan sejalan dengan proyeksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka Sustainable Development Goals. Dengan demikian, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan di ketiga sektor tersebuttidak hanya berbasis pada kebutuhan domestik, tetapi juga merujuk pada agenda pembangunanglobal yang telah mengantisipasi potensi krisis multidimensi.Taklimat yang disampaikan langsung kepada para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselonI menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang selaras, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sektor energi, pemerintah menunjukkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi dengannegara-negara sahabat. Presiden mengindikasikan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi untukmengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak. Dalam situasi geopolitik yang penuhketidakpastian, pendekatan diplomasi aktif dinilai menjadi instrumen penting untuk menjagastabilitas energi dalam negeri.Diplomasi energi ini mencerminkan kesadaran pemerintah bahwa ketahanan energi tidak dapatsepenuhnya bergantung pada sumber daya domestik. Dibutuhkan jejaring kerja samainternasional yang kuat untuk memastikan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka peluanginvestasi dan transfer teknologi di sektor energi. Kunjungan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energiglobal.Di tengah gejolak harga energi dunia yang fluktuatif, pemerintah juga dinilai berhasil menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan ini mencerminkankeberpihakan pada daya beli masyarakat sekaligus menunjukkan kapasitas negara dalammeredam dampak langsung dari tekanan eksternal. Stabilitas harga BBM menjadi indikatorpenting bahwa strategi pengelolaan energi nasional berjalan efektif di tengah tekanan global yang tidak ringan.Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal, penguatan subsidi yang tepat sasaran, serta hasil dari diplomasi energi yang memastikan pasokan tetap aman. Pemerintahsecara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali terhadap sektor energi mampu dijaga denganbaik, sehingga gejolak global tidak serta-merta diteruskan ke masyarakat. Namun demikian, pemerintah tidak mengabaikan penguatan kapasitas dalam negeri. Upayamenuju swasembada energi terus didorong melalui berbagai program strategis, termasukoptimalisasi sumber daya alam dan pengembangan energi terbarukan. Langkah ini menunjukkanbahwa diplomasi internasional berjalan beriringan dengan penguatan fondasi domestik, sehinggaIndonesia memiliki ketahanan yang lebih kokoh dalam jangka panjang.Di sektor pangan, pemerintah juga menempatkan swasembada sebagai prioritas utama. Presidenmengisyaratkan bahwa upaya ini telah lama menjadi bagian dari gagasan besar yang kinidiwujudkan melalui program-program konkret. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan denganketersediaan produksi, tetapi juga distribusi, aksesibilitas, serta stabilitas harga yang harus dijagasecara berkelanjutan.Sementara itu, sektor air sebagai salah satu pilar penting dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Pemerintah melihat bahwa secara umum ketersediaan air masih relatif mencukupi, meskipun terdapat tantangan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia timur. Permasalahanutama lebih banyak terletak pada aspek pengelolaan dan kerusakan lingkungan, sepertideforestasi yang berdampak pada berkurangnya daya serap air.Dalam perspektif ini, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungansebagai bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dapatdimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, tantangan terkait ketersediaan air diyakini dapat diatasi.Lebih jauh, taklimat Presiden juga menjadi ruang untuk menyampaikan optimisme terhadapmasa depan Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa di tengah berbagai krisis global, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang relatif stabil dan tangguh. Keyakinanini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis, serta kebijakanyang diarahkan pada penguatan kemandirian nasional.Pendekatan yang mengombinasikan penguatan domestik dan diplomasi internasionalmenunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktifdalam membangun ketahanan jangka panjang. Diplomasi dengan negara sahabat menjadijembatan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan kebutuhannasional tetap terpenuhi.*) Analis Diplomasi Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
- Advertisement -

Baca berita yang ini