Mantap, Drone yang Dikembangkan Mahasiswa UGM Bisa Menjaga NKRI!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto kagum dengan inovasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mengembangkan teknologi pertahanan.

Sejumlah teknologi pertahanan yang dikembangkan para mahasiswa UGM di antaranya, pesawat tanpa awak atau UAV Fiachra Aeromapper, UAV Amphibi Gama V2, Rudal Pasopati Rocket Assisted Take-Off, Drone Palapa S-1, serta Geospatial Artificial Intelligence (GEOAI) untuk bidang pertahanan dan keamanan.

Ialah Azhar Aulia Rasidin, mahasiswa Teknik Mesin UGM yang turut mengembangkan Drone Palapa S-1 mengatakan, pesawat nirawak itu berfungsi untuk pemantauan (surveillance).

Drone yang memiliki daya jelajah sekitar 500 kilometer dalam waktu enam jam dan dapat mencapai ketinggian 1 kilometer ini dikembangkan sejak 2021 oleh Tim Force UGM, kata mahasiswa angkatan 2017 itu.

“Itu untuk pemantauan wilayah misal kebakaran hutan. Kelebihannya yang paling menonjol dari drone ini adalah kemampuan take off langsung vertikal. Jadi bisa langsung mencapai ketinggian yang kita mau terus langsung bergerak maju. Langsung dari sana,” tutur Azhar dalam keterangan tertulis Kemhan, Sabtu, 5 Februari 2022.

“Kalau untuk pertahanan mungkin bisa di daerah perbatasan, untuk memantau daerah perbatasan kalau misalnya ada sesuatu yang mencurigakan bisa segera di laporkan,” sambungnya.

Selain Azhar, Ditya Farhaz, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin UGM angkatan 2019 yang mengembangkan Rudal Pasopati mengatakan bahwa rudal yang dikembangkannya mampu menargetkan sasaran rendah dan tidak terdeteksi oleh radar.

“Sebagai penarget sasaran diam untuk ketinggian rendah agar tidak terdeteksi oleh radar,” ucapnya.

Ditya menjelaskan bahwa Rudal Pasopati yang turut dikembangkannya telah diriset sejak 2016-2017 dengan hasil dapat ditempuh jarak terbang 5km dengan kecepatan maksimal 130 km per jam dan ketinggian 100 m.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini