Mantan Pengacara Sebut Penembak di Wina Sebagai Jiwa yang Hilang

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Mengenakan kemeja dan topi berwarna hitam, dengan senapan otomatis, pistol, dan juga parang di tangan, Kujtim Fejzulai yang baru berusia 20 tahun itu memposting foto dirinya di akun Instagram miliknya sebelum memulai aksi penembakan di jantung kota Wina, Austria.

Senin (2/11) malam waktu setempat, ia membunuh empat orang dan melukai 22 orang lainnya yang tengah menikmati malam terakhir sebelum pemberlakuan aturan nasional diterapkan. Serangan tersebut menjadi peristiwa paling mengerikan di Austria selama beberapa dekade.

Fejzulai bergerak melalui pusat Kota Wina dan membaki orang-orang yang lewat, juga orang-orang yang tengah duduk di luar restoran dan bar dekat Sinagog Seintenstettengasse- yakni tempat ibadah umat Yahudi di Wina. Aksi terkutuknya berlangsung selama sembilan menit.

Menurut Menteri Dalam Negeri Austria, Karl Nehammer, Fejzulai lahir di pinggiran selatan Kota Wina. Kedua orang tuanya berasal dari Makedonia. Pekerjaan sehari-hari Fejzulai adalah tukang kebun dan asisten toko.

“Sejak pubertas, terdakwa memiliki masalah besar di rumahnya, yang juga menyebabkan kekerasan,” berdasarkan dokumen tahun 2019, melansir Reuters, Kamis, 5 November 2020.

Saat berusia 18 tahun, Fejzulai menarik perhatian Badan Intelijen Domestik Austria, lantaran ia dikenal sebagai pengikut ideologi jihadis. Dalam laporan tersebut, Fejzulai berusaha melintasi perbatasan dari Turki ke Suriah tahun 2018, tetapi ditangkap dan dideportasi ke Austria.

Sementara pada April 2019, Pengadilan Pidana Wina menghukum Fejzulai 22 bulan penjara karena menjadi anggota organisasi teroris dan menyebarkan propaganda. Lantaran usianya yang masih muda, ia hanya menjalani sepertiga dari hukumannya dan dibebaskan pada Desember 2019.

Nicholas Rast, pengacara yang mendampingi Fejzulai selama persidangan saat itu terkejut. Ia tak pernah mengira kliennya dapat melakukan tindak kekerasan dan menyebabkan kematian orang-orang tak berdosa.

Sang pengacara mengingat kliennya sebagai “jiwa yang hilang, seorang anak kecil yang mencari tempatnya di masyarakat, dan tak tahu harus pergi ke mana.” Rast menambahkan bahwa dia mendapat kesan bahwa Fejzulai telah menemukan kembali ke “nilai-nilai masyarakat yang sebenarnya.”

“Saya dia berhasil menipu kita,” kata Nicholas Rast.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini