Mandiri Hadapi Pandemi Covid 19, Warga Madiun Bagi-bagikan Makanan dan Sembako

Baca Juga

MATA INDONESIA, MADIUN – Tak semua orang mengeluh dan menyalahkan satu sama lain menghadapi Pandemi Covid 19. Di beberapa daerah, warga malah memperlihatkan sikap gotong royong dan saling membantu. Contohnya warga Madiun. Di kota yang berada di wilayah Jawa Timur ini kepedulian sosial antar tetangga dan warga berjalan dengan baik.

Dimotori Tatok Raya, warga RT 42/RW 13, Kelurahan Taman, mereka terus membagi sembako secara gratis.

Sementara Rumah Makan Gratis (RMG) Madiun membagikan makanan matang kepada sesamanya. Aksi warga tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan sosial ekonomi masyarakat terdampak pandemi Covid-19.

”Kami memang hanya membatasi untuk lingkungan warga sekitar saja. Bukan untuk warga di luar wilayah kami,” kata Tatok Raya.

Hal ini dimaksudkan untuk menginspirasi warga lainnya melakukan hal yang sama. “Biar masing-masing wilayah tumbuh rasa saling peduli juga,” ujarnya.

Warga dipersilahkan untuk mengambil sembako sendiri sesuai kebutuhan. Selain beras, kebutuhan mie instan, telor, minyak goreng, dan gula disediakan oleh Tatok Raya di teras rumahnya setiap hari.

“Kami sengaja mengajarkan kejujuran. Dalam sehari ada 7 hingga 8 orang yang datang,” ujar.

Selain aktivitas sosial, RT.42/RW.13 Taman juga menjalankan protokol kesehatan. Memiliki 20 rumah, wilayah ini menjalankan protokol kesehatan selama 3 pekan.

Aktivitasnya dimulai dari pengukuran suhu tubuh dengan angka rata-rata di bawah 37 derajat celcius. Pengukuran suhu tubuh dilakukan tiap 2 hari sekali. Selain itu, ada juga penyemprotan disinfektan yang dilakukan 2 kali seminggu.

Selain Taman, aktivitas sosial dijalankan RMG Madiun di Jalan Mundu No. 4, Kota Madiun, Jawa Timur. Pada hari normal, tempat ini hanya beroperasi pada Senin dan Kamis. Pengunjungnya selalu ramai. Backgroundnya beragam, seperti tukang becak, ojek online, pelajar, mahasiswa, juga karyawan pabrik.

Menunya sangat bervariasi. Ada nasi, sayur, ayam, tempe goreng, dan kerupuk.

“Pembagian makanan gratis sebenarnya menjadi program reguler RMG Madiun. Dengan adanya Covid-19 ini, fungsi RMG Madiun semakin dioptimalkan. Sebab, ada banyak saudara kami yang ekonominya terdampak Covid-19. Kami siapkan banyak nasi plus lauk pauk setiap harinya. Jadi, silahkan mampir,” ujar Koordinator Lapangan RMG Madiun Ardiyan Agung Nugroho.

Mensikapi pandemi Covid-19 sekaligus bulan Ramadan, RMG Madiun mengatur ulang operasionalnya. Hari operasional RMG Madiun digeser menjadi Senin-Rabu-Kamis. Pada hari tersebut, masyarakat bisa datang langsung ke Jalan Mundu. Selain tata waktunya, menu makanan yang disajikan juga mengalami penyesusian. Dikemas menjadi nasi bungkus, lauk pauk yang ditawarkannya serba kering.

”Pandemi Covid-19 dan momentum puasa membuat kami banyak melakukan penyesuaian. Makanan kami bungkus agar bisa dibawa pulang. Karena dibungkus, kami tidak bisa memakai lauk berkuah atau basah. Padahal kalau hari normal, kami sajikan juga Rawon, Soto, hingga Kari. Kami sempat berpikir untuk memberi sembako, tapi kasihan kalau ada pendatang dari luar kota,” kata Ardiyan.

Untuk memenuhi kebutuhan Ramadan, RMG Madiun membagikan paket nasi sebanyak 300 hingga 350 bungkus per hari. Makanan tersebut biasanya digunakan sebagai menu berbuka puasa oleh masyarakat di Kota Gadis. “Jumlah menu yang disiapkan sejauh ini cukup mengakomodir kebutuhan. Itu adalah hasil donasi dari rekan-rekan di Madiun dan patungan,” katanya.

Selain di Jalan Mundu, RMG Madiun juga turun ke jalan dan daerah membagikan nasi gratis. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada Selasa dan Jumat. Operasional luasan wilayah yang dituju berada di Kota hingga Kabupaten Madiun. Ardiyan menambahkan, RMG Madiun selalu berkoordinasi dengan daerah sebelum melakukan kunjungan sosial kemanusiaan.

Selain aksi sosial, RMG Madiun juga menjalankan protokol kesehatan. Mereka melakukan pencatatan suhu tubuh khususnya pagi pengunjung di Jalan Mundu. Untuk pengkuran suhu tubuh, rata-ratanya berada direntang 36,5 hingga 36,8 derajat celcius. RMG Madiun sebelumnya sudah mendapat bantuan dari Yayasan 10 Rumah Aman. Komposisinya Thermo Gun, masker, hingga handscoon.

”Alhamdulillah program 10 Rumah Aman saat ini sudah ada di beberapa kota dan tersebar di seluruh nusantara. Masing-masing menyesuaikan dengan kapasitasnya masing-masing. Tanpa keterlibatan masyarakat, pemerintah akan kesulitan menghadapi pandemi seperti saat ini,” kata Kepala Staf Presiden Moeldoko.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini