Mahfud Sebut Tak Ada Isu Reshuffle di Kabinet

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Mencuatnya isu reshuffle kabinet, langsung dibantah oleh Menko Polhukam, Mahfud MD. Menurutnya, Presiden Joko Widodo tidak pernah menyinggung mengenai isu reshuffle tersebut.

“Saya enggak tahu kalau soal isu reshuffle. Di kabinet ya enggak ada isu reshuffle,” katanya.

Ia mengatakan, kebijakan gonta-ganti menteri merupakan hak prerogatif presiden. Keputusan itu pun tidak bergantung pada hal apapun, seperti hasil survei yang dirilis oleh Indo Barometer.

Dalam survei tersebut, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dinilai publik sebagai menteri Kabinet Indonesia Maju paling bagus kinerjanya dengan 26,8 persen. Di urutan berikutnya adalah Menkeu Sri Mulyani (13,9 persen), Menteri BUMN Erick Thohir (12,6 persen), Menko Polhukam Mahfud Md (7,3 persen), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (5,2 persen), dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (1,8 persen).

Menyusul kemudian Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (1,4 persen), Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (1,4 persen), Menko PMK Muhadjir Effendy (0,9 persen), Menko Kemaritiman (0,9 persen), lainnya (4,4 persen). Sementara yang tidak menjawab 23,3 persen.

“Biasanya kalau kayak begitu setelah ada hasil survei, masyarakat berspekulasi. Padahal di tingkat presiden sendiri enggak pernah nyinggung reshuffle,” katanya.

Ia katakana, pergantian menteri itu hak prerogatif presiden, enggak perlu menteri tahu. Tetapi tanda-tandanya juga enggak ada. Itu kan hanya dari hasil survei dan boleh saja orang berspekulasi kalau dari presiden sendiri isyarat itu enggak ada.

Mahfud menegaskan, hasil survei yang dirilis Indo Barometer tidak mengganggu fokus menteri dalam bekerja. Semua masih fokus mengerjakan tanggung jawab yang dipercayakan Presiden Joko Widodo.

Mahfud MD sendiri tidak terlalu menanggapi hasil survei dengan berlebihan. Ia tidak mau menanggapi soal kepuasan publik kepada dirinya berada di urutan tiga teratas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini