Liverpool Kalah, Klopp Kecewa dan Marah

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Pelatih Liverpool, Juergen Klopp kecewa dan marah setelah timnya kalah dari Arsenal. Klopp meminta anak asuhnya memetik pelajaran dari kekalahan ini.

Liverpool dikalahkan Arsenal dengan skor 1-2, Kamis 16 Juli 2020 dini hari WIB di Stadion Emirates. Sempat unggul melalui gol Sadio Mane, The Gunners membalikkan skor berkat gol Alexander Lacazette dan Reiss Nelson.

Kekalahan Liverpool tak lepas dari dua kesalahan individual yang dilakukan Virgil van Dijk dan Alisson. Khusus bagi Van Dijk, ini adalah kesalahan yang sangat jarang dilakukannya. Upaya backpass ke kiper justru berbuah petaka. Bola direbut Lacazette yang berujung gol.

“Kami harus 100 persen belajar dari kesalahan ini. Sebelumnya kami pernah mengalami momen ceroboh dan tak mendapat hukuman, tapi ini bagus karena kami harus memetik pelajaran. Pujian untuk Arsenal karena bisa memanfaatkan kesalahan kami,” ujar Klopp, dikutip dari BBC, Kamis 16 Juli 2020.

“Saya kecewa dan marah terkait beberapa hal yang terjadi, tapi pertandingan ini bagus, sikap para pemain bagus, tapi kami kehilangan fokus dan itu penyebabnya kami kalah. Inilah sepak bola, seseorang terkejut bahwa para pemain ini hanyalah manusia biasa. Dari waktu ke waktu, mereka tidak sempurna,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara *)Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalamruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awalkemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagianpenting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyakvariabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebihkomprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasitersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakahnarasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasiIndonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaranyang lebih lengkap kepada masyarakat. Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isukemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakatrentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuanmeningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomibaru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usahakecil di daerah. Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumenpaling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa. Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakahpemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasusMBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokuspada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran....
- Advertisement -

Baca berita yang ini