Libur Lebaran, 106 Wisatawan Pantai Parangtritis Tersengat Ubur-ubur

Baca Juga

MINEWS, YOGYAKARTA – Menurut tim SAR, selama libur Idul Fitri, tercatat ada 106 wisatawan tersengat ubur-ubur di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, sejak Senin 3 Juni sampai Kamis 6 Juni 2019.

Koordinator SAR Pantai Parangtritis Bantul Ali Sutanto berkata sengatan ubur-ubur itu tidak membahayakan nyawa korban, namun menimbulkan rasa panas pada perut dan sesak nafas bagi yang tidak kuat.

“Semua korban sudah ditangani di posko, meskipun beberapa dibawa ke Rumah Sakit Racma Husada Bantul,” ujar Ali, Jumat 7 Juni 2019.

Pengobatan terhadap korban sengatan ubur-ubur, kata dia, biasanya diolesi minyak untuk meredakan panas dan istirahat beberapa waktu. Di posko SAR tersebut disediakan relawan dan obat-obatan untuk pertolongan pertama pada korban.

Dia juga mengatakan, kondisi alam yang cenderung mendung atau langit tertutup awan ini menjadi penyebab hewan itu tidak naik ke permukaan.

“Tidak bisa dipastikan, karena selama masih ada cuaca dingin dan angin kencang pasti ada ubur-ubur,” kata Ali.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini