Lawan Inflasi Energi: APMI Dorong Percepatan Bioenergi Sawit di Tengah Gejolak Global

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran global.

Jalur yang menguasai sekitar 20% distribusi minyak dunia tersebut kini menjadi titik krusial yang dapat mengganggu rantai pasok energi dan memicu inflasi dunia.

Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Umum Asosiasi Planters Muda Indonesia (APMI), Muhammad Nur Fadillah, menegaskan bahwa Indonesia harus segera memperkuat ketahanan nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik.

Sebagai negara net-importir bahan bakar minyak (BBM), Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak mentah yang berimbas langsung pada APBN dan subsidi energi.

Sawit Sebagai Solusi Strategis

Menurut Fadil, Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi turbulensi ini melalui industri kelapa sawit. Dengan produksi melebihi 45 juta ton per tahun, sawit bukan lagi sekadar komoditas ekspor, melainkan pilar transisi energi.

“Kita tidak bisa mengontrol konflik global. Tapi kita bisa memastikan bahwa rakyat Indonesia tidak menjadi korban dari ketergantungan struktural. Sawit bukan sekadar komoditas ekspor. Sawit adalah instrumen kedaulatan bangsa,” tegas Fadil dalam keterangan tertulisnya, Rabu 4 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa program mandatori biodiesel seperti B40 telah terbukti secara data mampu menekan impor solar hingga jutaan kiloliter per tahun.

Langkah ini tidak hanya menghemat devisa negara, tetapi juga menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen saat harga minyak dunia bergejolak.

Percepatan Hilirisasi dan Kemandirian

APMI mendorong pemerintah untuk melakukan langkah logis dengan mempercepat hilirisasi sawit dan transisi bioenergi. Fadil menilai krisis di Selat Hormuz harus dibaca sebagai momentum untuk memutus ketergantungan pada energi fosil impor.

“Jika satu kebijakan biodiesel saja mampu menekan impor dan menjaga stabilitas energi domestik, maka penguatan hilirisasi sawit dan percepatan transisi bioenergi adalah langkah logis di tengah ketidakpastian global hari ini,” lanjutnya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain energi, Fadil juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan.

Ia menekankan perlunya efisiensi distribusi, inovasi dari generasi muda, serta peningkatan produktivitas perkebunan rakyat.

Pihak APMI mengharapkan adanya kolaborasi konkret antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.

Konsolidasi ini bertujuan untuk menjadikan krisis global sebagai batu loncatan menuju swasembada yang berkelanjutan dan terukur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menjaga Standar Mutu MBG, Pemerintah Tegas Tutup SPPG Yang Bermasalah

Mata Indonesia, Jakarta – Langkah tegas diambil Pemerintah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menutup sementara 47...
- Advertisement -

Baca berita yang ini