Kronologi Penolakan Pagar Permanen di Pantai Sanglen: Warga vs Intimidasi Aparat

Baca Juga

Mata Indonesia, Gunungkidul – Suasana tenang di Pantai Sanglen, Kemadang, Tanjungsari, mendadak mencekam pada Senin siang, 27 April 2026. Upaya pemasangan pagar permanen secara sepihak oleh pihak Keraton Yogyakarta memicu ketegangan setelah melibatkan pengawalan ketat dari aparat TNI dan Polri.

Tindakan ini dituding sebagai bentuk intimidasi nyata terhadap warga yang menggantungkan hidup dari kawasan pesisir tersebut.

Peristiwa bermula sekitar pukul 11.42 WIB ketika warga yang tergabung dalam Paguyuban Sanglen Berdaulat mendapati satu unit truk pikap bermuatan material pagar besi tiba di lokasi.

Para pekerja mengaku diperintah langsung oleh pihak Keraton untuk menutup akses utama menuju pantai.

Eskalasi Ketegangan dan Kehadiran Aparat
Situasi memanas saat tim pengawalan dari Keraton tiba bersama sejumlah personel TNI pada pukul 12.20 WIB.

Kehadiran aparat berseragam di tengah konflik agraria ini dirasakan warga sebagai upaya represif untuk memuluskan proyek pembangunan.

Tak lama kemudian, enam personel kepolisian menyusul ke lokasi dan melakukan dokumentasi, yang menambah tekanan psikologis bagi warga di lapangan.

Warga setempat tetap bertahan dan mencoba melakukan negosiasi persuasif agar pemasangan pagar dibatalkan.

Setelah diskusi alot selama hampir dua jam, sekitar pukul 14.00 WIB, para pekerja akhirnya bersedia menarik diri dan meninggalkan lokasi tanpa memasang pagar permanen tersebut.

Aroma Privatisasi untuk Ekspansi Bisnis

Upaya penutupan akses publik ini diduga kuat berkaitan erat dengan rencana ekspansi Obelix, sebuah proyek resort yang dikelola oleh PT Biru Bianti.

Langkah privatisasi ini dinilai melanggar UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang menegaskan bahwa pantai adalah ruang publik yang tidak boleh dikuasai secara sepihak.

Menanggapi hal ini, Kepala Advokasi dan Kampanye WALHI Yogyakarta, Rizki Abiyoga, mengecam keras keterlibatan aparat dalam sengketa ruang publik tersebut.

“Kehadiran aparat TNI dan Polri dalam proses pemagaran paksa ini jelas merupakan bentuk intimidasi terhadap warga. Negara seharusnya melindungi hak publik atas akses pantai, bukan justru menjadi alat untuk memuluskan kepentingan korporasi yang berlindung di balik kekuasaan Keraton,” ujar Rizki Abiyoga, Rabu 29 April 2026.

Selain persoalan hak publik, pembangunan resort Obelix seluas 3 hektar ini terancam merusak ekosistem Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 3045 K/40/MEM/2014, wilayah ini merupakan kawasan lindung geologi nasional.

Pakar lingkungan memperingatkan bahwa pengubahan bentang alam karst akan merusak sistem hidrologi alami yang berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah.

Pelanggaran terhadap daya dukung lingkungan ini berpotensi menyeret pihak pengembang pada pelanggaran UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Hingga berita ini diturunkan, warga Paguyuban Sanglen Berdaulat menyatakan akan tetap bersiaga di kawasan pantai guna mengantisipasi adanya upaya penutupan susulan yang dapat memutus mata pencaharian mereka secara permanen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat dan Misi Menemukan Bakat Terpendam Anak Indonesia

Oleh : Ricky Rinaldi )*Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas sumber dayamanusia sekaligus membuka peluang bagi setiap anak untuk meraih masa depanyang lebih baik. Namun, masih terdapat anak-anak Indonesia yang menghadapiketerbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas akibat kondisi ekonomikeluarga maupun berbagai hambatan sosial lainnya. Situasi tersebut mendorongpemerintah menghadirkan Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu upayamemperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Lebih dari sekadar menyediakan layanan pendidikan, Sekolah Rakyat membawa misi yang lebih besar, yaitu menemukan, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi yang selama ini mungkin belum pernah memperolehkesempatan untuk tumbuh.Setiap anak lahir dengan karakter, minat, dan bakat yang berbeda. Sayangnya, tidaksemua anak memiliki lingkungan maupun fasilitas yang memungkinkan potensitersebut berkembang secara optimal. Keterbatasan ekonomi sering kali membuatanak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sehingga kesempatanmengasah kemampuan di bidang akademik, olahraga, seni, teknologi, maupunkepemimpinan menjadi sangat terbatas. Melalui pendekatan pendidikan yang lebihkomprehensif, Sekolah Rakyat berupaya memastikan bahwa setiap peserta didikmemperoleh kesempatan yang sama untuk mengenali keunggulan dirinya sejak dini.Presiden Prabowo Subianto menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai salah satu prioritas nasional. Dalam kerangka tersebut, Sekolah Rakyat dikembangkan sebagai program pendidikan berasrama yang memberikan aksespendidikan bermutu bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menjadibagian dari strategi memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Program inidirancang agar peserta didik tidak hanya memperoleh layanan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter, penguatan keterampilan, serta pendampingan yang mendorong mereka menjadi generasi yang mandiri dan berdaya saing. (kemendikdasmen.go.id)Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa setiap siswa Sekolah Rakyat memiliki potensi yang perlu dikenali dan dikembangkan. Karena itu, pemerintahmemperkuat proses pemetaan bakat dan minat peserta didik melalui berbagaiasesmen sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakter sertakeunggulan masing-masing anak. Pendekatan tersebut diharapkan membantu siswamenemukan bidang yang paling sesuai untuk dikembangkan sehingga merekamemiliki bekal yang lebih kuat dalam merencanakan masa depan. (news.detik.com)Pemetaan bakat menjadi langkah penting karena keberhasilan pendidikan tidakhanya diukur dari nilai akademik semata. Seorang anak dapat memiliki kemampuanluar biasa di bidang seni, olahraga, teknologi, kewirausahaan, maupunkepemimpinan yang membutuhkan ruang untuk berkembang. Dengan mengenalipotensi tersebut sejak dini, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektifkarena disesuaikan dengan karakter dan minat peserta didik. Pendekatan ini juga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri sehingga siswa lebih termotivasi untukterus belajar dan mengembangkan kemampuan terbaiknya.Lingkungan belajar yang mendukung menjadi faktor penting dalam mengoptimalkanpotensi tersebut. Melalui sistem pendidikan berasrama, peserta didik memperolehpendampingan yang lebih intensif, baik dalam aspek akademik maupunpembentukan karakter. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi pembimbing yang membantu siswa mengenali kelebihan, mengatasiberbagai tantangan belajar, serta membangun kebiasaan positif dalam kehidupansehari-hari. Pendekatan yang berkesinambungan ini memberikan kesempatan bagisetiap anak untuk berkembang secara utuh.Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kekuatan Program SekolahRakyat. Sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, dunia usaha, organisasi sosial,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini