Korban Jatuhnya Ethiopian Airlines Berasal dari 33 Negara, Termasuk Indonesia

Baca Juga

MINEWS, INTERNASIONAL – Pemerintah Ethiopia memastikan seluruh penumpang yang berada di pesawat Ethiopian Airlines tewas tak menyisakan satupun yang selamat.

Mengutip Reuters, pesawat yang jatuh pada Minggu 10 Maret 2019 di daerah Bishoftu itu mengangkut 149 orang penumpang yang berasal dari 33 negara berbeda, dan kabarnya satu penumpang berasal dari Indonesia.

Penumpang asal Indonesia itu kini belum diketahui identitasnya. Negara yang paling banyak kehilangan warganya dalam tragedi itu adalah Kenya dengan 32 orang dan Kanada 18 orang.

Selain mengangkut 149 penumpang, di dalam pesawat juga ada 8 orang kru. Pihak maskapai berkata sedang melakukan investigasi mendalam terkait sebab-sebab jatuhnya pesawat.

Total ada 149 orang penumpang, dan 8 orang kru yang berada di penerbangan tersebut. Proses pencarian sendiri masih terus dilakukan. 

Pesawat dengan jenis Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi ET-AVJ itu terbang dari Bole Airport di Addis Ababa pada 8.38 waktu setempat. Pesawat tujuan Nairobi itu disebut hilang kontak 6 menit setelah lepas landas.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini