Kembali ke Inggris, Karius Si Blunder Diisukan Gabung Wolves

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ingat saat final Liga Champions tahun 2018, saat Real Madrid menumbangkan Liverpool dengan skor 3-1? Ya, waktu itu, penyebab kekalahan The Reds adalah karena blunder fatal yang dua kali dilakukan penjaga gawang Loris Karius.

Setelah itu, Karius dibuang Liverpool ke klub Turki, Besiktas dengan status pinjaman selama dua tahun kontrak. Kini, kiper berusia 26 tahun itu kabarnya siap diboyong kembali ke Inggris oleh Wolverhampton Wanderers.

Bahkan, The Wolves mengklaim sudah membicarakan soal transfer Karius kepada manajemen Liverpool. Apalagi, kontrak Karius dengan Besiktas juga habis musim panas tahun ini, dan dipastikan tak diperpanjang lagi.

Kabarnya, The Wolves membutuhkan kiper asal Jerman tersebut untuk menggantikan John Ruddy yang telah tergolong tua dan akan habis kontraknya Juli mendatang.
Wolverhampton rencananya hendak menjadikan Karius sebagai kiper nomor dua di Molineux. Ia nantinya akan diplot sebagai pelapis penjaga gawang utama, Rui Patricio.
Meski demikian, keputusan tersebut kini berada di tangan Karius. Ia harus memilih apakah menerima tawaran Wolverhampton atau kembali lagi ke Liverpool hingga kontraknya selesai pada 2022.
Liverpool saat ini sudah memiliki Alisson Becker sebagai penjaga gawang utama. Selain itu, The Reds juga masih mempunyai Adrian San Miguel sebagai kiper nomor dua di Anfield.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini