Kapolri Dapat Perintah dari Jokowi, Bongkar Habis Jaringan Bom Medan!

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA - Presiden Joko Widodo menyoroti tajam peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan pada Rabu 13 November 2019 pagi, yang mengakibatkan tewasnya pelaku, dan 6 orang lainnya yang mengalami luka-luka.

Merespons kejadian itu, Jokowi dikabarkan telah memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengusut dan membongkar tuntas jaringan-jaringan yang diduga terlibat dengan pelaku.

“Sesuai pembicaraan dengan Kadiv Humas Polri, akan segera diselidiki. Pak Idham akan menyelesaikan langsung hasil penyelidikan dan penyidikan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Fajroel Rachman di Jakarta.

Tak hanya itu, Jokowi telah mengeluarkan perintah kepada kepolisian, untuk siaga melindungi 260 juta penduduk Indonesia dari aksi-aksi teror seperti bom bunuh diri.

Presiden tegas berkata, bila ada menemukan indikasi tindakan-tindakan yang mengarah ke radikalisme, maka harus segera dilakukan upaya pendindakan yang tegas.

“Presiden tidak akan memberikan toleransi kepada pelaku. Pemerintah akan melindungi setiap WNI dari kemungkinan tindakan-tindakan terorisme,” kata Fajroel.

Seperti diketahui, identitas pelaku bom bunuh di Mapolrestabes Medan terungkap. Pelaku bernama Rabbial Muslim Nasution, berusia 24 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa.

 

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini