Kandang Manchester United Tak Lagi Angker bagi Tim Lawan

Baca Juga

MATA INDONESIA, MANCHESTER – Manchester United dikenal sulit dikalahkan ketika main di Old Trafford. Tapi, musim ini Old Trafford tak lagi angker bagi tim lawan.

MU menjamu Sheffield United, Kamis 28 Januari 2021 dini hari WIB. Alih-alih meraih kemenangan, Setan Merah justru dipecundangi tim juru kunci itu dengan skor 1-2.

Sheffiel United unggul dulu melalui gol Kean Bryan. MU bisa menyamakan skor lewat tandukan Harry Maguire. Sheffield akhirnya mencetak gol kemenangan melalui tendangan yang dilepaskan Oliver Burke. Bola sempat mengenai Axel Tuanzebe dan berubah arah, sehingga membuat David De Gea tak bisa berkutik.

MU sudah melakoni 10 pertandingan kandang. Hasilnya, The Red Devils kalah empat kali. Sisanya emapt kemenangan dan dua imbang. MU mencatatkan empat kali kekalahan dimana semuanya terjadi di Old Trafford. Old Trafford, yang kerap disebut Theatre of Dreams, tak lagi menakutkan lawan.

Kekalahan pertama diderita saat kalah 1-3 lawan Crystal Palace. Kemudian, MU dihajar Tottenham Hotspur 1-6. Kekalahan ketiga dialami saat menjamu Arsenal. Tim besutan Ole Gunnar Solskjaer tumbang 0-1.

Catatan MU di laga tandang justru jauh lebih bagus. Dari 10 pertandingan, MU mencatatkan delapan kemenangan dan dua imbang.

Di luar Liga Premier Inggris, MU pernah dua kali kalah di Old Trafford. Pertama, melawan PSG di penyisihan grup Liga Champions. Kemudian, saat menantang Manchester City di Piala Liga Inggris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini