Kabarnya Ada 16 Menteri dari Parpol, Siapa Saja Mereka?

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Misteri siapa-siapa saja nama menteri kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin perlahan mulai terkuak. Meski masih merahasiakannya rapat-rapat, Presiden Jokowi memberi bocoran jumlahnya.

Salah satu yang dibocorkan oleh Jokowi adalah kabinet periode 2019-2024 ini akan diisi 16 nama dari partai politik. Siapa saja mereka? Itu pun ternyata masih dirahasiakan.

“Ya kurang lebih. Saya belum ngitung. Kurang lebih,” kata Jokowi usai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Minggu 20 Oktober 2019.

Selain tak memberitahu nama-namanya, Jokowi juga merahasiakan posisi kementerian mana yang akan diisi kader-lader parpol. Termasuk juga Jokowi tak mengungkapkan apakah ada nama dari parpol non koalisi yang masuk kabinet.

Seperti diketahui, ada empat parpol besar yang tak mendukung Jokowi-Ma’ruf dalam Pilpres 2019 lalu, yakni Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat. Tiga dari parpol non koalisi itu sudah menunjukkan sinyal merapat ke pemerintah, yakni Gerindra, PAN dan Demokrat, sementara PKS tertinggal sendirian sebagai oposisi.

Mengenai nama-nama menteri, Jokowi sudah menegaskan ia akan mengumumkannya hari ini, Senin 21 Oktober 2019. Belum tahu pukul berapa pengumuman penting tersebut disampaikan.

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini