Jangan Lengah, Terorisme Kerap Sasar Anak Muda

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pada tahun 2019, Densus 88 pernah menangkap dua terduga teroris di Bekasi berininsial EY dan YM. Khusus EY merupakan sosok senior di kelompok teroris JAD yang mahir dalam merakit bom dan merekrut kader baru.

EY berhasil merekrut anak muda bernama Kautsar alias Y yang baru saja lulus tahun 2019.  Kasus ini merupakan contoh dari pergeseran pola rekrutmen di dalam kelompok teroris JAD. Salah satu penyebabnya adalah anak muda gampang disusupi paham radikalisme.

Selain itu penangkapan teroris berusia remaja juga pernah terjadi di Jembrana, Bali pada tahun 2019. Pelaku yang berininsial ZA itu masih berusia 14 tahun sehingga kepolisian memperlakukannya secara khusus.

Fenomena merebaknya paham radikalisme dan terorisme di kalangan remaja tidak lepas dari era kemajuan teknologi yang semakin memudahkan aliran informasi. Kondisi ini yang dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk menyebarkan ideologi radikal kepada anak-anak muda atau remaja.

Pemahaman radikal juga mudah masuk dipicu karena mereka masih mencari jati diri dan memiliki semangat yang tinggi.

Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta juga mengemukakan bahwa anak remaja masih membutuhkan eksistensi dan kelompok radikal dinilai bisa memanfaatkan situasi ini.

Maka penamanam nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan dan kebhinekaan perlu dilakukan bertahap untuk menyasar anak-anak muda.

“Harusnya dilawan dengan membuat ideologi Pancasila dan nasionalisme lebih menarik generasi muda sehingga tidak terjerumus ke dalam ideologi lain,” kata Stanislaus saat berbincang dengan Mata Indonesia News, 27 Januari 2021.

Penguatan para pemuda dalam konteks ideologi, kewirausahaan, dan jiwa kepemimpinan harus diperkuat dengan melibatkan semua pihak mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini