Jangan Khawatir! Jokowi Masih Perhatikan Kasus Novel Kok

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Kalian tidak perlu khawatir ya kasus Novel Baswedan akan terbengkalai. Soalnya, Istana memastikan Presiden Joko Widodo masih memperhatikan kasus tersebut dan akan segera menagihnya kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Kepastian ini disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang menjamin Jokowi akan segera meminta semua hasil pekerjaan Kapolri dalam mengusut tuntas penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

“Kebiasaan Pak Jokowi ya seperti itu, mengecek pekerjaan yang telah diberitahukan,” ujar Moeldoko di Jakarta, Jumat 18 Oktober 2019.

Seperti diketahui, Jokowi sebelumnya memberikan tenggat waktu tiga bulan kepada Polri untuk segera mengungkap kasus tersebut. Perintah itu disampaikan Jokowi pada 19 Juli 2019 lalu setekah Tim Pencari Fakta (TPF) menyampaikan hasil investigasi mereka

Bula tenggat waktu yang diberikan Jokowi adalah tiga bulan, dari bulan Juli 2019, maka seharusnya bulan Oktober 2019 ini kasus penganiayaan terhadap Novel sudah menemui titik terang.

“Saya beri waktu 3 bulan. Akan saya lihat nanti hasilnya. Jangan sedikit-sedikit larinya ke saya, tugas Kapolri apa nanti?” kata Jokowi, Juli 2019 lalu.

Moeldoko mewakili Istana juga meminta masyarakat aktif menyuarakan dan mendesak penegak hukum agar kasus tersebut bisa segera terungkap sampai tuntas.

 

Berita Terbaru

Hilirisasi untuk Ekonomi yang Lebih Sejahtera

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakinmenunjukkan arah yang jelas, yaitu dengan memperkuat nilai tambah sumber dayaalam melalui strategi hilirisasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda industrialisasibiasa, melainkan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.  Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, langkah pemerintahmempercepat hilirisasi menjadi salah satu strategi paling rasional untuk memastikankekayaan alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk memperkuat peranPerusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai instrumen negara dalammengelola sumber daya mineral secara lebih terintegrasi. Langkah ini sangat penting mengingat selama bertahun-tahun Indonesia lebihbanyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan. Denganpenguatan Perminas, pemerintah ingin memastikan bahwa pengelolaan mineral tidak lagi berhenti pada aktivitas eksplorasi dan penambangan, tetapi dilanjutkanhingga tahap pengolahan industri bernilai tinggi di dalam negeri. Presiden menekankan bahwa penguatan Perminas akan menjadi kunci bagiterciptanya pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terpadu. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembangmenjadi pusat produksi dan inovasi industri mineral di tingkat global. Langkah inisemakin relevan jika melihat tren investasi nasional. Data terbaru menunjukkanbahwa sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen daritotal realisasi investasi nasional pada 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwatransformasi ekonomi berbasis nilai tambah mulai memberikan dampak nyata bagipertumbuhan ekonomi. Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga mendorong pembangunaninfrastruktur industri melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Pemerintah saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden atas pembentukanenam KEK baru yang akan difokuskan pada industri berbasis energi dan manufakturberteknologi tinggi. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa seluruh kajian teknis telah rampung dan kinimenunggu keputusan presiden. Ia mengatakan pihaknya sedang mengusulkan adaenam KEK baru yang akan diresmikan atau disetujui oleh Presiden. Keenamkawasan tersebut akan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Fokus industrinya meliputi pengembangankendaraan listrik, smelter pengolahan mineral strategis seperti nikel, hinggapengembangan energi hijau. Strategi ini tidak hanya memperkuat hilirisasi, tetapijuga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Secara kinerja,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini