Ini Alasan Pembalap Formula E Nggak Jajal Lintasan Sebelum Balapan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Para pembalap Formula nggak akan menjajal lintasan balapan lebih dulu sebelum balapan. Alasannya, mereka sudah melakukan persiapan menggunakan simulator.

Balapan Formula E Jakarta E-Prix akan digelar pada 4 Juni mendatang di Sirkuit Ancol. Menurut Chairman Organizing Committee Jakarta E Prix, Ahmad Sahroni pembalap nggak akan menjajal lintasan karena sudah melakukan persiapan dengan menggunakan simulator.

“Mereka enggak tes lintasan, mereka langsung main. Mereka sudah main di simulator,” ujar Sahroni.

Sahroni mengatakan, balapan Formula E berbeda dengan balapan Formula One (F1). Pasalnya, banyak lintasan sirkuit Formula E yang ada di negara lain merupakan sirkuit yang baru.

“Formula E itu karena City Circuit, sirkuitnya semua rata-rata baru, jadi mereka mainnya di simulator. Beda dengan F1. F1 itu kan semua negara, sirkuitnya yang sudah ada,” katanya.

Untuk penjualan tiket kategori VIP sudah ludes terjual. Sementara tiket kategori VVIP dengan harga 7,5 juta hingga 10 juta Rupiah sudah terjual di atas 50 persen.

Tiket grandstand yang memiliki kapasitas 10 ribu kursi telah terjual hingga 70 persen. Sedangkan untuk tiket kategori Ancol Festival yang berada di luar area sirkuit Formula E baru terjual 15 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini