MATA INDONESIA, LONDON – Pemulihan ekonomi yang lemah pasca pendemi covid-19 menyebabkan Inggris menjadi satu-satunya negara G7 dengan ekonomi terkecil daripada awal tahun 2020.
Kantor statistik Nasional (ONS) merilis angka yang menunjukkan bahwa alih-alih ekonomi menjadi 0,6 persen lebih besar daripada Februari 2020, justru ekonomi Inggris hanya mencapai peningkatan sebanyak 0,2 persen.
Kuartal kedua yang diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi Inggris justru menyebabkan kenaikan inflasi yang menyebabkan Inggris berada di jurang resesi. Peningkatan ekonomi di Inggris belum mampu untuk mendorong pertumbuhan yang cukup untuk PDB Inggris.
Analis mengatakan departmen keuangan Inggris dalam hal ini akan dipaksa untuk mengambil sikap keras dalam menilai dampak pinjaman lebih lanjut pada keuangan publik.
Semua ekonomi utama lainnya di G7 termasuk Prancis dan Italia, pulih cukup kuat dengan total ekonomi yang lebih baik dibanding Februari 2020 ketika belum terdampak pandemi covid-19.
Ekonom di Capital Economics, Paul Dales, mengatakan “Meskipun ada berita yang lebih baik tentang kinerja ekonomi pada kuartal kedua, gambaran keseluruhannya adalah bahwa ekonomi berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada yang kita duga sebelumnya. Dan itu sebelum hambatan penuh dari lonjakan inflasi dan lompatan biaya pinjaman telah dirasakan.”
Bank of England mengatakan awal bulan ini bahwa mereka memahami ekonomi Inggris sudah dala resesi setelah memperkirakan penurunan PDB sebesar 0,1 persen pada kuartal ketiga. Sedangkan di kuartal kedua menunjukan bahwa sementara ekonomi tertekan namun tidak mungkin memasuki resesi sampai akhir tahun.