Indonesia Masuki Era Endemi Covid-19, Tantangan Ekonomi Makin Besar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tahun 2023, Indonesia sudah memasuki era endemi Covid-19. Meski begitu masih ada sejumlah tantangan ekonomi yang sulit dihadapi di 2023.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan hal itu usai rapat terbatas bersama Presiden Jokowi terkait rancangan rencana kerja pemerintah dan pagu indikatif tahun 2021 di Kantor Presiden, Kamis 14 April 2022.

”Kondisi tahun 2023 pandemi yang akan mulai menurun dan kemudian masuk ke pada periode endemi. Sehingga ini akan menjadi salah satu hal yang akan mengurangi beban dan juga mengurangi tekanan terhadap masyarakat dan perekonomian,” ujarnya.

Namun disisi lain, terdapat tantangan baru yang muncul akibat ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Ketegangan geopolitik tersebut menyebabkan kenaikan harga-harga komoditas. Dan kemudian mendorong inflasi tinggi di seluruh dunia. Terutama di negara-negara yang sekarang ini negara maju. Hal ini membuat pemulihan ekonomi global terganggu.

”Kenaikan komoditas dan inflasi yang tinggi menyebabkan pengetatan kebijakan moneter. Baik dari sisi likuiditas, maupun suku bunga yang kemudian akan menimbulkan potensi volatilitas arus modal. Dan juga nilai tukar serta tekanan pada sektor keuangan,” katanya.

Berdasarkan proyeksi berbagai lembaga keuangan seperti, OECD yang memangkas pertumbuhan ekonomi dunia di 2023 dari yang semula 4,5 persen menjadi hanya 3,5 persen. Bank Dunia juga turut merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari 4,4 persen menjadi 3,5 persen.

Kemudian WTO juga meramalkan pertumbuhan ekonomi dunia akan melemah dari 4,4 persen ke 3,1 persen hingga 3,7 persen.

Begitu juga dengan inflasi juga akan mengalami kenaikan. Menurut Bank Dunia, inflasi di negara-negara maju akan naik dari 3,9 persen ke 5,7 persen, sedangkan di negara-negara emerging atau berkembang akan mengalami tekanan inflasi dari 5,9 persen ke 8,6 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Beasiswa Otsus, Jembatan Emas Generasi Papua Menuju Masa Depan Gemilang

Oleh : Natael Pigai )* Beasiswa Otonomi Khusus menjadi salah satu instrumen strategis dalam membangunmasa depan Papua yang lebih cerah dan berdaya saing. Di tengah tantangangeografis, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan akses pendidikan yang masihdirasakan di sejumlah wilayah, kehadiran beasiswa Otsus menjadi jembatan emas yang menghubungkan generasi muda Papua dengan kesempatan belajar yang lebih luas. Program ini tidak sekadar bantuan finansial, melainkan investasi jangka panjang untukmencetak sumber daya manusia Papua yang unggul, percaya diri, dan mampuberkontribusi nyata bagi kemajuan daerahnya. Esensi utama dari Otsus di bidang pendidikan adalah afirmasi yang berpihak pada Orang Asli Papua agar memperoleh peluang setara dengan daerah lain. Melaluibeasiswa Otsus, banyak pelajar Papua mendapat akses ke perguruan tinggi berkualitasdi dalam dan luar negeri. Kesempatan tersebut memperluas wawasan, membentukkarakter kepemimpinan, serta menumbuhkan jejaring global yang kelak bermanfaatbagi pembangunan Papua. Pendidikan menjadi jalur strategis untuk memutus rantaikemiskinan struktural sekaligus membuka mobilitas sosial yang lebih luas. Kisah para penerima beasiswa Otsus memperlihatkan dampak konkret dari kebijakanini. Cecilia Novani Mehue merupakan salah satu contoh bagaimana program afirmasipendidikan mampu mengubah arah hidup generasi muda Papua. Dengan latarbelakang keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di Amerika Serikat selama bertahun-tahun melalui dukungan beasiswa Otsus....
- Advertisement -

Baca berita yang ini