Imbas Ketidakpastian Dagang AS-Cina, Rupiah Diramalkan Terus Anjlok

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Laju mata uang Garuda nampaknya masih bertahan di zona merah pada perdagangan Rabu, 20 November 2019. Kemarin rupiah ditutup melemah atas dolar AS di level Rp 14.092 per dolar AS atau turun 0,11 persen.

Untuk hari ini, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah akan berkisar di level Rp 14.062 hingga Rp 14.115 per dolar AS.

Ia mengatakan laju rupiah hari ini masih akan dibayangi sejumlah sentimen dari luar negeri di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal ketidak pastian perjanjian dagang antara AS dan Cina. Di satu sisi, ada harapan yang tinggi bahwa Amerika Serikat dan China akan menandatangani apa yang disebut kesepakatan ‘fase satu’ untuk mengurangi perang dagang selama 16 bulan. Tapi di sisi lain, justru Cina pesimis akan kesepakatan ini.

“Beijing terganggu oleh komentar Trump bahwa tidak ada kesepakatan tentang penghapusan tarif secara bertahap,” kata Ibrahim sore ini.

Kedua, para investor juga terus mengamati setelah Trump bertemu Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell pada hari Senin kemarin. Hal ini berkaitan dengan kritik berulang yang dilancarkan Trump AS bahwa The Fed belum cukup menurunkan suku bunga yang berimbas pada memburuknya ekonomi AS.

Ketiga, Bank sentral Australia dijadwalkan hari ini akan merilis soal suku bunga acuannya. Sejauh ini, Bank sentral negeri kanguru ini telah memotong suku bunga tiga kali ke level terendah historis 0,75 persen, karena pelemahan yang tidak diinginkan dalam pertumbuhan upah dan inflasi.

Sementara dari dalam negeri, laju rupiah di bayangi oeh rilis dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen untuk simpanan rupiah di bank umum.

Sedangkan untuk simpanan dalam bentuk valuta asing atau valas diturunkan juga 25 bps menjadi 1,75 persen. Kemudian untuk BPS simpanan rupiahnya menjadi 8,75 persen.

Kata Ibrahim, ada beberapa pertimbangan yang mempengaruhi LPS menurunkan tingkat bunga pinjaman, antara lain Tren suku bunga baik deposito maupun kredit terus menunjukkan penurunan. Kondisi likuiditas perbankan tidak ada permasalahan. Nilai tukar rupiah dan kondisi global masih cukup stabil dan baik. “Kebijakan ini berlaku sejak 20 November 2019 hingga 24 Januari 2020,” ujarnya.

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini