Hubungi Presiden Biden, PM Inggris Rayu AS Kembali ke Perjanjian Paris

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson berharap dapat bekerja sama dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, termasuk dalam mengatasi perubahan iklim.

Johnson melakukan dialog dengan Presiden Biden melalui panggilan telepon pertamanya untuk membahas mengenai peluang kembalinya AS ke dalam Perjanjian Paris 2015, mengenai iklim dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, kedua pemimpin negara tersebut juga membahas mengenai prospek kesepakatan perdagangan bebas. Johnson  sendiri mengaku senang dapat berbincang dengan mantan Senator Delaware tersebut.

“Senang bisa berbicara dengan Presiden Joe Biden malam ini. Saya berharap dapat memperdalam aliansi lama antara kedua negara kita saat kita mendorong pemulihan hijau dan berkelanjutan dari COVID-19,” kata PM Johnson, melansir Reuters.

Gedung Putih mengungkapkan, Biden dan Johnson berbincang mengenai masalah kerja sama, termasuk melalui organisasi multilateral, dalam mengekang perubahan iklim dan memerangi COVID-19.

“Biden juga menyampaikan niatnya untuk memperkuat hubungan khusus antara negara kami dan merevitalisasi hubungan transatlantik, menggarisbawahi peran penting NATO untuk pertahanan kolektif dan nilai-nilai bersama kami,” kata Gedung Putih dalam rilisnya.

Sementara seorang juru bicara Johnson mengatakan para pemimpin juga membahas manfaat dari kesepakatan perdagangan bebas potensial antara kedua negara. Panggilan Biden dengan Johnson merupakan yang pertama dengan pemimpin Eropa sejak menjabat.

Sebelumnya, Presiden Biden juga melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, dan Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador terkait masalah imigrasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini