Hidup di Penjara Lalu Diceraikan Istri, Galih Ginanjar Ikhlas

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Galih Ginanjar yang masih mendekam di penjara karena kasus ‘bau ikan asin’, telah resmi diceraikan oleh Barbie Kumalasari. Perceraian ini ternyata sudah berlangsung tiga bulan.

“Tiga bulan lalu. Aku sampaikan ke partner aku, karena dia yang jenguk Galih ke Polda, akhirnya banyak dikasih penjelasan, ya butuh waktulah untuk Galih mengerti dan akhirnya Galih bisa mengerti,” kata Barbie di Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2020.

Ia menyebut, Galih sudah ikhlas menerima perceraian tersebut. Seperti diketahui, kedua pasangan ini menikah secara siri, namun belum dikaruniai anak.

Barbie berharap, Galih Ginanjar hidup normal usai bebas dari tahanan, dan mampu menjalani hidup seperti sebelum menikah dengannya.

“Udah mengerti udah menerima, setelah Galih keluar tahanan juga Galih seperti Galih dulu bekerja di entertainment,” ujarnya.

Bahkan, Barbie sudah bicara ke keluarga Galih soal perceraian mereka. Ia mengaku, keluarga Galih juga sudah ikhlas dengan keputusan tersebut.

“Udah sih sama mamanya, untuk keluarga Galih yang mana baiknya aja, yg jalanin berdua, yang penting silaturahmi nggak terputus,” katanya menambahkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini