Gempa Kuat dengan Magnitudo 7,1 Guncang Sulut Hingga Filipina

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa kuat dengan magnitudo 7,1 mengguncang Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut) pukul 19.23 WIB. Guncangan dirasakan hingga Halmahera Utara dan Galela, bahkan sampai Filipina.

Pusat gempa berada di laut 134 kilometer timur laut Melonguane dan di kedalaman 154 kilometer.

Guncangan itu dirasakan paling kuat di Melonguane, Tahuna, dan Ondong. Selain itu, juga dirasakan di Manado, Bitung, Bolaang Uki, Gorontalo, Halmahera Utara hingga Galela.

Warga Tahuna dikabarkan berhamburan ke luar rumah khawatir tertimpa material rumah mereka dan PLN memutus aliran listriknya.

“Gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” Kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sangihe, Rivo Pudihang seperti dilaporkan Antaranews, Kamis 21 Januari 2021.

Bahkan dari Filipina dikabarkan guncangan tersebut juga bisa dirasakan di selatan Mindanao selama dua menit.

Meski begitu, BMKG tidak mencatat potensi tsunami yang menyusul gempa tersebut meskipun pusatnya di laut.

BNPB hingga BPBD setempat juga belum mendapat laporan kerusakan atau korban manusia yang diakibatkan gempa tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini