Efek Corona, 15.000 Karyawan Airbus Dirumahkan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Penyebaran wabah corona ikut memukul lini bisnis produsen pesawat terbang asal Prancis, Airbus. Imbasnya 15.000 orang karyawan bakal dirumahkan alias mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Airbus secara global memiliki 134.000 karyawan, dengan 10 persen di antaranya berada di Inggris. Aksi PHK akan dilaksanakan bergiliran dalam setahun ke depan. Setidaknya ada 5.000 pekerja di Prancis akan jadi korban.

Lalu di Jerman ada 5.100 orang, Spanyol ada 900 pekerja, di Inggris ada 1.700 orang dan 1.300 di sejumlah daerah lain.

“Ini kenyataan yang harus kami hadapi dan kami berusaha memberikan perspektif jangka panjang kepada Airbus,” kata Kepala Eksekutif AirbusGuillaumeFaury melansir Reuters, Rabu 1 Juli 2020.

Pemberhentian karyawan Airbus di Inggris meliputi divisi pesawat terbang komersial, dengan lokasi kerja di Broughton dan Filton. Airbus akan berkomunikasi dengan serikat pekerja sebelum menentukan jumlah karyawan yang diberhentikan di masing-masing lokasi kerja.

Keputusan ini dilakukan sebagai respon atas lumpuhnya industri penerbangan akibat pandemi. Produksi Airbus pun dikabarkan terpangkas 40 persen dalam beberapa bulan terakhir. Lalu lintas udara diperkirakan baru akan kembali ke level sebelum pandemi pada 2023 mendatang.

Hal senada juga dilakukan oleh maskapai penerbangan berbiaya rendah Inggris, EasyJet. Perusahaan ini telah mengumumkan akan memberhentikan 2.000 karyawan. Sementara maskapai penerbangan Prancis-Belanda, Air France-KLM juga akan memberhentikan 6.500 karyawan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bonus Hari Raya Ojol, Kesejahteraan Bagi Gig Worker

Oleh: Alexander Royce*) Transformasi ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir telah melahirkan jutaanpekerja sektor informal berbasis aplikasi atau gig worker. Di antara mereka, pengemudi ojek online (ojol) menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri. Tahun ini, kabar mengenai pencairan Bonus Hari Raya (BHR) bagi para pengemudi ojol menjadi angin segar yang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan pekerja, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Langkah pemerintah memastikan kembali pemberian Bonus Hari Raya bagi pengemuditransportasi daring menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pekerja sektor informal digital. Kebijakan ini relevan dengan situasi terkini, di mana daya beli masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi menjelang Lebaran 2026. Dengan lebih dari 850 ribupengemudi yang dipastikan menerima bonus tahun ini, dampaknya tidak bisa dipandang sebelahmata. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memastikan bahwa para pengemudi ojol kembalimendapatkan Bonus Hari...
- Advertisement -

Baca berita yang ini