Dulu Prabowo Kini Jokowi, Ashanty Ungkap Alasannya Ganti Haluan di Pilpres 2019

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Artis cantik Ashanty buka-bukaan soal alasannya memilih Jokowi di Pilpres 2019 ini. Lewat sebuah unggahan di akun Instagram, Ashanty menjelaskan sejumlah alasannya pindah haluan ke Jokowi. Padahal pada 2014 lalu, ia memilih Prabowo.

“Saya mau cerita, karena terlalu banyak asumsi aneh-aneh, dan di DM banyak yang nanya bukannya saya kemaren nyanyi acara sana, itu saya profesional sebagai penyanyi dan entrepreneur. Dulu, sayang memang saya nggak memilih Pak Jokowi. Saya memilih Pak Prabowo saat Pemilu 5 tahun yang lalu,” kata Ashanty, dikutip Minggu, 14 April 2019.

Ashanty mengakui awalnya suka dengan sosok Prabowo. Itu mengapa dia sempat yakin 2014 Prabowo pantas memimpin Indonesia yang beranekaragam. “Saat beliau kalah, saya yakin semua adalah kehendak Allah, harus kita terima dan dukung siapa pun yang mempimpin demi bangsa ini,” lanjutnya.

Namun, setelah merasakan hampir lima tahun kepemimpinan Jokowi, Ashanty merasakan banyak hal positif. Terlebih ketika show keliling Indonesia, ia menyaksikan langsung betapa maju dan pesatnya perkembangan infrastruktur di daerah-daerah.

“Dan bagaimana bahagianya masyarakat yang merasakan. Walau pun pastinya belum semua. Ada yang bilang harga naik, ekonomi susah dan lain, tapi saya selalu mengambil positif,” ujarnya.

Tidak mudah memimpin negara sebesar Indonesia. Namun menurut Ashanty, Jokowi telah mampu menunjukkan kesungguhannya dalam bekerja.

“Artinya selama lima tahun beliau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk rakyat, walau belum semua merasakan atau belum merata, itulah mengapa saya saat ini memilih Bapak Jokowi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas. Tidak bisa cepat karena negara ini besar. Belum menyeluruh memang, mungkin dimulai dengan infrastruktur, taukah kita dampaknya apa buat kita semua? Kita enggak bisa egois hanya memikirkan sebagian, tapi di pelosok sana banyak yg sudah merasakan hasil kerja nyata Bapak Jokowi,” katanya.

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini