Duh! 3 Bocah Ini Relakan Tubuhnya Digigit Laba-Laba Beracun, Katanya Biar Jadi Spiderman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Spiderman menjadi salah satu karakter film yang banyak diidolakan anak-anak. Dalam filmnya, pemuda bernama Peter Parker tak sengaja tersengat oleh laba-laba beracun hingga akhirnya memiliki kekuatan super.

Kisah fiksi dalam film ini coba ditiru oleh 3 bocah hingga berujung petaka. Tiga bocah tersebut dengan sengaja merelakan tubuhnya digigit laba-laba beracun.

Alih-alih berubah jadi Spiderman, ketiga bocah asal Bolivia ini malah harus dilarikan ke rumah sakit usai mereka digigit laba-laba hitam beracun.

Dilansir dari laman Oddity Central, Jumat, 29 Mei 2020, usut punya usut ketiga bocah itu sengaja melakukan hal tersebut lantaran penasaran apakah mereka dapat berubah menjadi superhero seperti Spiderman.

Ketiga bocah berusia 8, 10 dan 12 tahun itu pun akhirnya terluka cukup parah. Diketahui, mereka adalah penggemar berat Spiderman.

Saat kejadian, ketiganya berada di sebuah taman bermain di daerah Chayanta, Potosi, Bolivia. Saat melihat laba-laba hitam beracun, bukannya menjauh mereka justru mendekatinya.

Mereka merasa menemukan laba-laba seperti di film kesukaannya. Ketiganya lantas sengaja membuat laba-laba itu mengigit.

Sekitar 10 menit usai kejadian, mulai timbul gejala aneh di tubuh mereka. Ketiga anak itu menangis kesakitan. Mereka juga mengalami nyeri otot, berkeringat, demam hingga tremor. Melihat kondisi anak-anaknya, orangtua mereka pun panik dan bergegas ke rumah sakit.

“Saya membagikan kisah ini hanya agar orang tua waspada dan berhati-hati. Untuk anak-anak segala hal bisa tampak nyata. Film bisa menjadi kenyataan, mimpi juga dan mereka adalah ilusi hidup kita,” kata Virgilio Prieto, kepala Epidemiologi di Kementerian Kesehatan Bolivia.

Syukurnya, ketiga bocah itu masih bisa diselamatkan. Kondisi mereka membaik setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini