Duh, 28 Warga Kudus Terpapar Varian Corona India

Baca Juga

MATA INDONESIA, KUDUS – Kekhawatiran corona varian dari India sudah menyebar ke India terbukti.  Sebanyak 28 pasien COVID-19 asal Kabupaten Kudus terpapar jenis corona varian baru dari India atau B1617.2.

Penyebaran virus corona yang diklaim lebih cepat menular itu didapatkan setelah Pemkab setempat menerima hasil tes genome dari Universitas Gajah Mada (UGM).” Dari 34 sampel spesimen COVID-19 28 di antaranya positif terkonfirmasi COVID-19 varian delta. Varian India itu terindikasi ada di Kudus,” kata Bupati Kudus Hartopo usai mengikuti rapat terbatas secara daring di Command Center Pemkab Kudus, Sabtu malam 12 Juni 2021.

Hartopo mengaku belum mengetahui bagaimana corona varian baru itu dapat menyebar di daerahnya. Namun, pihaknya akan segera menggelar rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait pembatasan yang akan dilakukan di Kudus. ”Dimungkinkan ada lockdown mikro di Kudus, tapi teknisnya seperti apa akan dirapatkan dengan Pak Gubernur,” katanya.

Dengan temuan itu, Hartopo mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada. Termasuk kepada pasien corona yang tanpa gejala. ”Karena kita tidak tahu, orang itu bertemu siapa dan dari mana, harus selalu waspada,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan hasil penelitian sampel orang yang terkena COVID-19 dinyatakan ada temuan varian baru. Ganjar pun sebelumnya sempat curiga karena lonjakan kasus tinggi di Jawa Tengah belakangan ini.

”Belum baru sampel yang ada di Kudus. Kita baru ambil sampel ke tempat yang lain. Tapi saya curiga pergerakan 3 minggu sebelumnya hanya tiga kabupaten, terus bertambah delapan dan sekarang bertambah 11 perasaan saya yakin ini varian baru,” ujar Ganjar, Minggu 13 Juni 2021.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bonus Hari Raya Ojol, Kesejahteraan Bagi Gig Worker

Oleh: Alexander Royce*) Transformasi ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir telah melahirkan jutaanpekerja sektor informal berbasis aplikasi atau gig worker. Di antara mereka, pengemudi ojek online (ojol) menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri. Tahun ini, kabar mengenai pencairan Bonus Hari Raya (BHR) bagi para pengemudi ojol menjadi angin segar yang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan pekerja, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Langkah pemerintah memastikan kembali pemberian Bonus Hari Raya bagi pengemuditransportasi daring menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pekerja sektor informal digital. Kebijakan ini relevan dengan situasi terkini, di mana daya beli masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi menjelang Lebaran 2026. Dengan lebih dari 850 ribupengemudi yang dipastikan menerima bonus tahun ini, dampaknya tidak bisa dipandang sebelahmata. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memastikan bahwa para pengemudi ojol kembalimendapatkan Bonus Hari...
- Advertisement -

Baca berita yang ini