Diduga Jadi Senjata Biologis, Apa Imbas Corona ke Indonesia?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Penyebaran wabah corona (COVID-19) yang sumbernya dari Wuhan, Cina kian masif ke berbagai negara. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang terdampak.

Muncul dugaan kalau wabah ini merupakan senjata biologis yang disebarkan Amerika Serikat (AS) ke Cina untuk menghancurkan perekonomiannya. Bahkan bisa menjadi efek domino bagi negara lain yang menjadi mitra bisnis Cina, salah satunya Indonesia.

Pakar Intelijen dan Keamanan Negara Stanislaus Riyanta pun membenarkan hal ini. Ia mengatakan, jika benar wabah corona adalah senjata biologis, maka sasaran utamanya adalah Cina.

“Analisis saya, Indonesia bukan sasaran langsung, tetapi hanya terdampak. Jika COVID-19 memang benar senjata biologis diduga aktor intelektualnya tidak bisa mengendalikan atau melokalisir dampak penyebarannya,” katanya kepada Mata Indonesia, Senin 16 Maret 2020.

Kata Stanislaus, saat ini Cina terbukti bisa survive dan perlahan pulih dari gempuran wabah tersebut. Sementara Indonesia tengah berjuang untuk meminimalisir penyebaran corona. Namun ini bukan berarti Indonesia adalah sasaran berikutnya sebab Indonesia bukanlah musuh langsung dalam perang dagang.

“Indonesia masih negara konsumen bukan negara produsen seperti Cina yang menjadi saingan berat Amerika,” ujarnya.

Meskipun begitu, Stanislaus menilai imbas dari penyebaran virus corona ke Indonesia tetap saja akan menguntungkan negara tertentu. Mengingat Indonesia adalah market dan mempunyai hubungan investasi dengan Cina.

Ia pun menganjurkan agar pemerintah melalui Badan Intelijen Negara (BIN) terus meningkatkan kemampuan deteksi dan pencegahan sejak dini atas ancaman dari virus corona. Sebab wabah ini terjadi secara mendadak dan bentuknya juga di luar dugaan, tapi mempunyai dampak yang siginifikan.

“Intelijen perlu membuat prediksi, forecasting dan skenario terkait ancaman COVID-19 yang berpotensi menggangu negara,” katanya.

Stanislaus juga menyarankan agar BIN harus melakukan deteksi dini dan cegah dini adanya pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana dan memanfaatkan situasi ini demi keuntungannya. “Terutama pihak-pihak yang selalu mengaitkan masalah COVID-19 ini dengan isu politik dan SARA,” ujarnya.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini