Dianggap Seperti Teroris, Polisi di Uzbekistan Paksa Warga Cukur Jenggot

Baca Juga

MATA INDONESIA, TASHKENT – Berbeda dengan Taliban yang mengharuskan pria di Afghanistan berjenggot, polisi di Uzbekistan justru memaksa pria Muslim untuk mencukur jenggot mereka.

Selama beberapa pekan terakhir, ada beberapa insiden di mana para pria dipanggil oleh polisi di kota Yangiyul, 20 kilometer selatan ibukota, Tashkent, kata koresponden. Seorang aktivis lokal, yang tidak mau disebutkan namanya, menyatakan bahwa dalam sebulan terakhir, sebanyak 22 pria dipaksa mencukur jenggot mereka.

“Hanya pria religius yang dipaksa untuk mencukur jenggot mereka,” tudingnya, seraya menambahkan bahwa praktik itu tampak “sistematis”, melansir Middle East Monitor, Jumat, 26 November 2021.

“Polisi mengatakan bahwa kami terlihat seperti teroris. Kami menumbuhkan jenggot karena dianggap sejalan dengan tradisi dan praktik Nabi Muhammad SAW. Itu melanggar hak kami,” tutur seorang warga Yangiyul kepada RFE/RL.

Kebijakan tersebut menuai kritik kelompok hak asasi selama beberapa tahun terakhir dan tampaknya meningkat karena pemerintah mengatakan akan menekan apa yang disebut sebagai Islam radikal. Ini mengikuti periode singkat di mana otoritas Uzbekistan mulai melonggarkan kebijakan garis keras sebelumnya terhadap agama.

Pada Juni, pemerintah Uzbekistan dilaporkan menarik mahasiswa yang menempuh pendidikan Islam di Mesir dan Turki sebagai bagian dari upaya untuk mengontrol dan membatasi interpretasi tertentu tentang Islam yang tidak disetujui oleh negara.

Sementara pada Desember tahun lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menghapus negara Asia Tengah dari daftar pengamatan khusus untuk pelanggaran kebebasan beragama, karena pemerintah dianggap tidak lagi terlibat atau menoleransi pelanggaran berat kebebasan beragama.

Sebagaimana diketahui, Uzbekistan sebelumnya telah ditetapkan sebagai “Negara Perhatian Khusus” dari tahun 2006 hingga 2017. Negara tersebut kemudian dipindahkan ke Daftar Pengawasan Khusus tahun 2018 dan 2019.

Namun, menurut Laporan 2020 tentang Kebebasan Beragama Internasional, ditemukan bahwa Uzbekistan terus memaksa pria Muslim untuk mencukur jenggot mereka dan untuk mencegah perempuan mengenakan jilbab di sekolah dan kantor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini