Daerah Ini Masih Mengalami Musim Kemarau Ditengah Perubahan Musim Pancaroba

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2020 dan memasuki musim pancaroba pada September 2020 lalu. Begitu seperti yang diumumkan oleh Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini BMKG, Miming Saepudin.

Secara umum, awal periode musim pancaroba dimulai dari bulan September. Maka dari itu, potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti puting beliung, angin kencang, hujan lebat disertai petir, harus diwaspadai selama periode tersebut.

Akan tetapi, memasuki bulan September ada beberapa wilayah masih di puncak kemarau seperti Kalimantan. Curah hujan rendah selama September 2020. Musim kemarau masih terjadi di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian Selatan.

Miming juga mengatakan ada kemungkinan kekeringan dengan level tinggi ada di wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Lalu, daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan kiranya akan mengalami curah hujan intensitas sedang pada bulan September 2020.w

Reporter: Nabila Rahadiantinur

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini