Crop Circle, Benarkah Buatan Alien?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Crop circle atau lingkaran tanaman adalah pola teratur yang terbentuk secara misterius di area lading tamanan, dibuat dalam waktu semalam. Awalnya, pola crop circle berbentuk sederhana tapi makin lama menjadi rumit.

Fenomena ini pertama kali ditemukan di Inggris pada 1970, dengan bentuk pola sederhana. Lalu berkembang bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada bentuk lingkaran saja. Namun, ada yang mengatakan crop circle pertama tahun 1686.

Dilansir dari nationalgeographic.grid.id, sepanjang paruh ketiga abad 20, sekira 10 ribu crop formation dilaporkan ditemui di 26 negara (27 jika termasuk di Sleman, Yogyakarta) di seluruh dunia. Sekitar 90% di antaranya berada di selatan Inggris.

Hingga saat ini pembuat crop circle masih diperdebatkan. Ada berbagai macam asumsi, ada yang mengatakan kalau crop circle buatan UFO karena pola crop circle yang begitu rumit dan ukurannya yang besar tidak memungkin dibuat manusia dalam waktu yang cepat.

Semakin kuat asumsi itu bahwa tidak ditemukannya jejak kaki atau bekas alat berat di sekitar crop circle. Batang tumbuhan yang merebah menghasilkan pola crop circle tidak patah dan hanya memuai, pemuaian ini menjadi misteri di kalangan ilmuwan.

Para ilmuwan juga menemukan adanya gelombang elektromagnetik tertentu sebelum crop circle terbentuk. Pola ini dianggap sebagai komunikasi dengan manusia dan makin banyak yang menghubungkannya dengan UFO.

Namun ada juga yang mengatakan crop circle merupakan buatan manusia. Pada 1991 Doug Bower dan Dave Chorley asal Inggris, mengaku telah membuat crop circle sebagai karya seni sejak akhir 1970 dan telah membuat lebih dari 200 karya.

Mereka terinspirasi dari sebuah laporan penampakan UFO pada 1966 dekat Tully, Queensland, Australia yang melihat sebuah piring terbang. Mereka membuat crop circle bertujuan agar orang percaya bahwa alien pernah mendarat di tempat itu.

Mereka mengatakan membuat crop circle hanya menggunakan sebuah papan, patok, dan tali. Menurut mereka, hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membuat crop circle yang berdiameter 12 meter. Lalu akhirnya, seiring berjalannya waktu, crop circle banyak muncul di seluruh dunia mengikuti jejak mereka berdua sebagai sebuah seni.

Crop circle juga pernah ada di Indonesia tepatnya di Sleman, Yogyakarta. Pada 23 Januari 2011 munculnya crop circle di daerah persawahan di Gunung Suru, Jogotirto, Berbah, di Sleman yang menggemparkan warga.

Crop circle ini merupakan yang pertama di Indonesia. Kepolisian yang menyelidiki menduga crop circle tersebut dibuat pada malam hari sebelumnya. Para warga meyakini crop circle ini adalah simbol pendaratan UFO.

Selain kesaksian itu, berbagai warga mengatakan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) milik PLN, maupun sebuah angin puting beliung terlihat naik turun di lading tersebut dan membuat lambang misterius.

Reporter: Laita Nur Azahra

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini