BPBD: Tahun Ini, 369 Desa di Jawa Tengah Bakal Alami Kekeringan

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng memprediksi setidaknya 360 desa/kelurahan yang berada di 31 dari 35 Kabupaten Daerah berpotensi kekeringan di musim kemarau ini.

Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto, mengatakan kekeringan pada bulan ini belum terlalu dirasakan dampak besarnya di Jawa Tengah. Namun dengan kondisi cuaca saat ini, setidaknya dipetakan beberapa daerah berpotensi kekeringan.

“Perlu diwaspadai seperti Wonogiri, sebagian Kebumen, Purworejo, Temanggung, Blora, Grobogan, dan sebagainya,” katanya.

Dari data BPBD Jateng, ada empat daerah yang diprediksi tidak terkena dampak kekeringan yaitu Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kota Salatiga, dan Kota Magelang. Sedangkan di 31 daerah yang terdampak diprediksi tidak merata namun setidaknya ada 360 Desa/Kelurahan yang akan terkena dampaknya.

Meski demikian, menurut Sudaryanto, tingkat kekeringan yang bakal terjadi di daerah yang dipetakan itu belum tentu parah karena terkadang masih ada daerah yang diguyur hujan. Selain itu musim hujan juga diprediksi sudah masuk pada bulan November.

“Ya belum tentu kekeringan parah juga. Sekarang pun masih ada hujan di beberapa wilayah, semoga kemarau tidak terlalu parah. Akhir Nopember sudah musim hujan lagi,” katanya.

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini