Bisnis Bambu di NTT Mulai Mengeliat di Masa Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Dukungan penuh dilakukan oleh Direktur Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDBKUMKM) Supomo dalam pengembangan bisnis pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa bambu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui koperasi.

Program pengembangan tersebut dalam rangka mendukung ekonomi hijau (green economy) di NTT yang mencakup 200 desa bambu agroforestri industri rakyat berbasis desa, pemberdayaan perempuan, restorasi lahan kritis, dan mitigasi perubahan iklim dengan pendekatan hutan bambu lestari.

“Kementerian Koperasi dan UKM melalui LPDB-KUMKM siap mendukung pengembangan ekosistem komoditas bambu di provinsi NTT melalui pembentukan badan hukum koperasi sebagai wadah yang menaungi para mama-mama bambu yang merupakan motor penggerak dalam ekosistem bambu di NTT,” ujarnya ketika berada di Desa Wanatani, Kabupaten Ngada, NTT, Senin 7 Maret 2022.

Saat ini, pengembangan komoditas bambu di NTT disebut sudah berjalan baik mulai dari hulu hingga hilir. Hanya saja, pengolahan bambu disebut belum terkonsolidasi atau masih bergerak sendiri-sendiri sehingga menjadi kurang kuat.

Dengan pembentukan badan hukum koperasi, Supomo meyakini ekosistem yang sudah berjalan selama ini bisa dikonsolidasikan lebih baik lagi terutama dari sisi pengembangan pabrik pengolahan bambu yang terintegrasi.

“Kalau dari segi bisnis ini sudah sangat baik, tinggal merapikan saja, dan ini saya kira bisa dilaksanakan tahun ini juga,” kata Supomo.

Direktur Pengembangan Usaha LPDB-KUMKM Jarot Wahyu Wibowo menambahkan, intervensi ekonomi oleh pihaknya melalui koperasi ditujukan untuk memberikan nilai tambah terhadap produk bambu yang dihasilkan.

“Ke depan, bambu yang dipanen masyarakat bukan hanya sekedar bahan baku mentah berupa bambu lonjoran, tetapi bisa berupa barang setengah jadi yakni menjadi strip bambu atau bahkan barang jadi,” katanya.

Program pengembangan komoditas bambu di NTT ini merupakan sinergi program antar kementerian/lembaga, mulai dari Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koperasi dan UKM, Pemerintah Provinsi NTT, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT, dan Yayasan Bambu Lestari (YBL).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini