BIN Lakukan Rapid Test Massal di Depok, Ini Hasilnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar tes cepat atau rapid test Covid-19 secara massal di kawasan Jalan Tole Iskandar, Kota Depok pada Jumat 22 Mei 2020 secara gratis.

Staf Khusus Kepala BIN, Mayjen TNI (Purn) Neno Hamriono, mengatakan rapid tes ini menyasar 500 warga Depok untuk mendeteksi kesehatan dan mengantisipasi penyebaran corona.

Neno menyebut, hasil rapid test tersebut bisa diterima oleh warga setelah 5 jam pemerikasaan oleh tenaga kesehatan.

Bila ditemukan ada warga yang reaktif, maka akan langsung dilakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCS). Rapid test ini adalah bagian dari medical intelijen BIN untuk membantu pemda melakukan pendalaman potensi munculnya klaster baru Covid-19.
“Mekanismenya kita melakukan rapid test dan hasil yang reaktif dari rapid test ini kita lanjutkan dengan test PCR,” kata Neno.
Pelaksanaan ini bekerja sama dengan gugus tugas dan Dinas Kesehatan Kota Depok untuk memetakan kasus lebih lanjut.
“Ke depan kegiatan ini akan terus dilakukan. Kita akan lakukan integrasi dimana mobile laboratorium kita standby,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini