Asia Tenggara, Lahan Subur bagi Kelompok Teroris

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA –   Penyebaran kelompok radikal dan teroris sudah menyasar ke sejumlah kawasan di dunia, termasuk Asia Tenggara.

Perisitiwa 11 September telah memicu tumbuhnya kelompok radikal berbasis agama Islam seperti Jamaah Islamiyah (JI), Kelompok Abu Sayyaf (ASG) dan lainnya. Beberapa kelompok ini menyebar di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia dan Thailand.

Melihat pergerakan teroris di Asia Tenggara, AS berupaya membantu dengan mengirimkan bantuan persenjataan dan pasukan untuk memberantas teroris khususnya di Filipina. Perhatian AS di Asia Tenggara juga tidak lepas dari jaringan teroris yang memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda, jaringan teror yang diduga mendalangi peristiwa 11 September.

Manuver AS ternyata tidak menyurutkan perjuangan para teroris, mereka bahkan semakin menunjukkan eksistensinya dengan melakukan pengeboman di Indonesia, tepatnya Bali dan Hotel JW Marriot.

Eksistensi para pelaku teror di kancah global tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan termasuk propaganda. Menurut Faisol Keling dalam The Problems of Terrorism in Southeast Asia, teroris menggunakan agama sebagai alat untuk melancarkan aksinya. Upaya ini bertujuan untuk menarik perhatian internasional dan meyakinkan orang-orang untuk ikut bergabung.

Selain itu, mereka juga menyasar masyarakat yang berpaham ekstremis, fundamentalis, konservatif serta memiliki kualitas pendidikan di bawah rata-rata. Kondisi ini memudahkan para teroris untuk merekrut anggota baru. Selain kondisi masyarakat, teroris juga memanfaatkan kondisi negara yang tidak stabil, seperti adanya perpecahan agama, etnis, korupsi dan konflik akibat politik.

Dalam The Problems of Terrorism in Southeast Asia juga ditegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara masih rentan menjadi lahan bagi pergerakan para teroris. Ketidakstabilan baik dari sisi ekonomi, politik dan keamanan ditambah dengan banyaknya kelompok ekstrem di beberapa negara memicu pergerakan teroris menjadi semakin besar.

Maka, inilah tugas organisasi seperti ASEAN dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk bahu membahu memberantas teroris di Asia Tenggara. Aktor negara juga harus berperan aktif untuk mencegah infiltrasi teroris di negaranya.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonomi Rakyat dan Rupiah: Kuat Lewat Kebijakan Stabilisasi yang Terukur

Oleh: Dhita Karuniawati )*Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwafondasi ekonomi Indonesia relatif mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal. Salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan tersebut adalah kebijakanstabilisasi ekonomi yang dijalankan secara terukur dan terkoordinasi.Stabilitas ekonomi bukan sekadar persoalan angka-angka makro seperti pertumbuhanekonomi, inflasi, atau nilai tukar rupiah. Di balik itu, terdapat kepentingan yang lebihbesar, yakni menjaga daya beli masyarakat, memastikan keberlangsungan usaha mikrodan kecil, serta menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Oleh karena itu, setiapkebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah perlu memiliki orientasi yang jelasterhadap kesejahteraan rakyat.Nilai tukar rupiah sering kali menjadi indikator yang mendapat perhatian luas darimasyarakat. Ketika rupiah mengalami tekanan, dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai lapisan ekonomi, mulai dari kenaikan harga bahan baku impor hinggameningkatnya biaya produksi. Sebaliknya, rupiah yang stabil memberikan ruang bagipelaku usaha untuk merencanakan kegiatan bisnis dengan lebih baik dan menjaga harga barang tetap terkendali.Dalam konteks inilah sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting. Kebijakan fiskal yang adaptif mampu memberikan bantalan terhadap gejolakekonomi global, sementara kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Keduanya harus berjalan beriringan agar tujuan pembangunan ekonomi dapat tercapaisecara optimal.Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan bahwa pemerintah telahmenyiapkan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika global. Strategi pertamaadalah mengarahkan belanja negara pada sektor yang lebih produktif guna mendorongpertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.Selain itu, pemerintah terus mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatanadministrasi perpajakan dan reformasi sistem perpajakan. Langkah ini dilakukan agar ruang fiskal tetap terjaga dan mampu mendukung berbagai program prioritas nasional. Di sisi pembiayaan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan untukmengurangi risiko dari gejolak pasar keuangan global.Menurut Juda Agung, efektivitas strategi tersebut tercermin dari berbagai indikatorekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada...
- Advertisement -

Baca berita yang ini