ASEAN, Tempat Terbaik Menyelesaikan Konflik Myanmar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ketua Kelompok Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia (HAM), mendesak pembebasan tahanan politik yang ditangkap oleh junta militer Myanmar dan menyudahi kekerasan sejak aksi demonstrasi pecah.

“ASEAN sekarang harus bertindak cepat dan menetapkan batas waktu yang jelas bagi Min Aung Hlaing untuk mengakhiri kekerasan atau siap untuk meminta pertanggungjawaban,” tehas Ketua Kelompok ASEAN untuk HAM, Charles Santiago, melansir Reuters, Minggu, 25 April 2021.

Sebagaimana diketahui, pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing menghadiri KTT ASEAN di Jakarta –yang merupakan perjalanan sekaligus pertemuan luar negeri perdananya pasca-merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih, Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

Pertemuan antara 10 negara anggota ASEAN sejatinya merupakan upaya internasional pertama untuk meredakan krisis dalam negeri Myanmar –negara miskin yang bertetangga dengan Cina, India, dan Thailand.

Sempat mengecam, Pemerintah Persatuan Nasional atau National Unity Government for Myanmar (NUG) yang terdiri dari tokoh-tokoh pro-demokrasi, sisa-sisa pemerintahan Aung San Suu Kyi yang digulingkan, dan perwakilan kelompok etnis bersenjata menyambut baik konsensus yang dicapai, namun menegaskan bahwa junta militer harus menepati janji.

“Kami menantikan tindakan tegas oleh ASEAN untuk menindaklanjuti keputusannya dan memulihkan demokrasi kami,” kata Dr. Sasa yang merupakan juru bicara NUG.

Para pemimpin Vietnam, Singapura, Malaysia, Kamboja, Brunei Darussalam, dan tuan rumah Indonesia hadir dalam KTT ASEAN yang diselenggarakan pada Sabtu (24/4), bersama dengan para Menteri Luar Negeri dari Laos, Thailand, dan Filipina.

Akan tetapi, kebijakan non-intervensi ASEAN sedikit menghambat upaya penanganan masalah dalam negeri Myanmar. Meski demikian, PBB, Cina, dan Amerika Serikat sepakat bahwa ASEAN adalah tempat terbaik untuk menangani konflik dalam negeri di Myanmar.

“Kami di [@UN] Dewan Keamanan sangat menantikan hasil dari pertemuan @ASEAN di Burma (Myanmar), yang membutuhkan perhatian serius dan segera,” tulis Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield.

Belumnya, para pemimpin Asia Tenggara mengatakan bahwa pemimpin junta militer, Min Aung Hlaing berjanji untuk mengakhiri krisis yang tengah melanda Myanmar. Meski ia tidak secara eksplisit menanggapi tuntutan untuk menghentikan pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini