Alhamdulillah, Singapura Izinkan Perawat Muslimah Pakai Jilbab

Baca Juga

MATA INDONESIA, SINGAPURA – Pemerintah Singapura akhirnya mengizinkan perawat Muslimah mengenakan jilbab atau hijab saat sedang bertugas di layanan kesehatan masyarakat. Aturan ini mulai berlaku pada November mendatang.

Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong saat menyampaikan pidato nasional. Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan kebijakan yang direvisi akan berlaku untuk lebih dari 7 ribu staf, Anadolu Agency melaporkan.

“Mengenakan jilbab menjadi semakin penting bagi komunitas Muslim. Ini mencerminkan tren umum religiositas yang lebih kuat dalam Islam, di seluruh dunia, di Asia Tenggara dan di Singapura,” kata Lee Hsien Loong, melansir Mina News.

Bagi banyak wanita Muslim, kata Lee, jilbab telah menjadi bagian penting dari keyakinan mereka dan ekspresi identitas yang sangat terasa. Selama beberapa dekade, lanjutnya, jumlah perempuan Muslimah yang berhijab di Singapura terus bertambah, baik di lingkungan sosial maupun di tempat kerja.

Untuk itu, membolehkan perawat memakai jilbab menjadi perbincangan utama di masyarakat saat ini. “Anak muda Singapura juga lebih menerima perbedaan ras dan agama hari ini,” sambungnya.

Akan tetapi, kata Lee, di beberapa instansi yang dituntut untuk memakai seragam, pemerintah belum memberikan izin. Ini berlaku untuk seragam di sekolah, Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) dan Tim Rumah, dan di rumah sakit umum.

“Sebagian besar umat Islam telah memahami dan menerima sikap pemerintah terhadap jilbab. Tapi mereka masih berharap bahwa seiring waktu, segalanya bisa berubah,” tuntasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini