Ada MRT, Masyarakat Indonesia Alami Geger Budaya

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Antusias masyarakat dengan keberadaan moda transportasi baru yakni mass rapid transit (MRT) sangat luar biasa. Setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), moda transportasi yang ditunggu selama 34 tahun akhirnya beroperasi.

MRT sendiri menjadi hal baru bagi masyarakat di Indonesia, khususnya Jakarta. Adanya MRT ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang memang beraktivitas di pusat kota. Keberadaan MRT telah membuat masyarakat Indonesia mengalami geger budayaatau biasa disebut “culture shock”.

Dimana merupakan bentuk kebingungan atau disorientasi yang muncul saat seseorang atau masyarakat dalam hal ini memasuki lingkungan baru dengan budaya yang berbeda dari lingkungan asalnya.

“Masyarakat Indonesia berada di titik culture shock. Pada hari kedua uji coba MRT ketika kuota 4 ribu orang, orang-orang tertib di line. Tapi ketika hari minggu kemarin yang benar-benar penuh. Orang-orang keluar semua,” ujar salah satu pegawai swasta di Sudirman, Fajar.

Menurut Fajar hal tersebut perlu diantisipasi oleh pihak MRT agar tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Di sisi lain, Petugas MRT Dukuh Atas, Hendra Kusuma menanggapi memang kurangnya sosialisasi dari pihak MRT untuk permasalahan tersebut.

“Adanya MRT juga berharap agar pola masyarakat yang tidak baik menjadi lebih baik seperti taat peraturan yang ada,” katanya

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini