Abaikan Perut Rakyat, Korea Utara Lanjutkan Program Nuklir

Baca Juga

MATA INDONESIA, PYONGYANG – Korea Utara tampaknya mengabaikan ‘perut rakyatnya’ menyusul keputusan Pyongyang untuk terus mengembangkan program rudal nuklir dan balistiknya selama paruh petama ahun 2021.

Program ini jelas melanggar sanksi internasional, ditambah lagi situasi ekonomi negara itu tengah memburuk. Demikian kutipan dari laporan rahasia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Laporan tim panel independen pemantau sanski Korea Utara kepada Dewan Keamanan PBB mengatakan bahwa Pyongyang terus mencari materi dan teknologi untuk program-program ini di luar negeri untuk mengembangkan kemampuan senjatanya.

“Meskipun fokus negara pada kesulitan ekonomi yang memburuk, Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) terus mempertahankan dan mengembangkan program rudal nuklir dan balistiknya,” para pemantau sanksi menyimpulkan, melansir Reuters, Sabtu, 7 Agustus 2021.

Negara Asia yang terisolasi itu memberlakukan penguncian ketat tahun lalu di tengah pandemi virus corona yang telah memangkas akses perdagangan dan bantuannya, melukai ekonomi yang sudah dibebani oleh sanksi internasional.

Pada bulan Juni, pemimpin Kim Jong Un mengatakan bahwa negaranya menghadapi situasi pangan yang kritis dan banyak yang akan bergantung pada panen tahun ini.

“Pernyataan yang dibuat oleh DPRK menunjukkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam di negara itu, meskipun blokade Covid-19 berarti bahwa dampak relatif sanksi terhadap situasi kemanusiaan mungkin telah berkurang,” tulis pemantau PBB.

“Dengan perdagangan yang terhenti karena blokade, dan panen tahun lalu yang sangat terpengaruh oleh banjir, prospek populasi DPRK yang lebih luas saat ini menjadi buruk,” kata mereka.

Sebagai catatan, Korea Utara dijatuhi sanksi oleh PBB pada 2006 atas program nuklir dan rudal balistiknya. Dewan Keamanan terus memperkuat sanksi dalam upaya untuk memotong pendanaan untuk program-program tersebut.

Di antara sanksi yang dijatuhkan adalah larangan ekspor batu bara dan komoditas lainnya serta impor minyak.

“Ekspor batu bara dan komoditas lain yang dikenai sanksi dari DPRK terus berlanjut, tetapi pada tingkat yang jauh berkurang. Impor produk minyak yang dilaporkan ke panel turun secara substansial pada paruh pertama tahun ini,” menurut laporan PBB.

Pyongyang juga terus mengakses lembaga keuangan internasional dan pekerja Korea Utara terus mendapatkan uang di luar negeri untuk digunakan dalam program negara, kata pemantau sanksi PBB, menambahkan bahwa pejabat di luar negeri terus merasakan tekanan untuk mengembangkan aliran pendapatan.

Tim pemantau juga mengatakan mereka terus menyelidiki keterlibatan Korea Utara dalam aktivitas dunia maya global dan kolaborasi oleh akademisi dan universitas Korea Utara dengan lembaga ilmiah di luar negeri, dengan fokus pada studi dengan aplikasi potensial dalam program WMD (senjata pemusnah massal).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Hadir Menjamin Keamanan Jemaah Haji di Tengah Ketegangan Dunia

Oleh: Rian Hakim )*Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidakmengurangi komitmen pemerintah dalam memastikan penyelenggaraanibadah haji 2026 berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi seluruhjemaah Indonesia. Pemerintah terus memperkuat koordinasi denganotoritas Arab Saudi serta menyiapkan berbagai langkah antisipatif agar situasi global tidak mengganggu pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.Fokus utama pemerintah saat ini tidak hanya pada kelancaranoperasional haji, tetapi juga perlindungan menyeluruh terhadap jemaahsejak keberangkatan hingga kepulangan. Di tengah dinamika konflikinternasional, negara hadir memberikan jaminan keamanan melaluidiplomasi, penguatan sistem perlindungan, hingga peningkatan koordinasilintas lembaga.Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memastikan kondisi keamanan tetap terkendali dan pelaksanaan haji berjalan lancar. Menurutnya, pemerintah Arab...
- Advertisement -

Baca berita yang ini