Syair Lampung Karam, Kenangan Letusan Mahadahsyat Krakatau 1883

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA - Salah satu saksi abadi letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883 adalah sebuah syair legendaris, yakni ‘Syair Lampung Karam’.

Syair ini benar-benar menggambarkan bagaimana kengerian letusan Krakatau yang disebut sebagai salah satu yang paling mengerikan dan terburuk, yang pernah tercatat dalam sejarah.

Gempa dan tsunami hebat menyapu sebagian pulau Sumatera dan Jawa. Total korban tercatat mencapai 36.417 jiwa. Dampak letusannya bahkan dirasakan oleh dunia, dan menjadi pemberitaan besar, hingga penelitian sampai saat ini.

SYA’IR LAMPUNG KARAM 

Orang banyak nyatalah tentu
Bilangan lebih daripada seribu
Mati sekalian orangnya itu
Ditimpa lumpur, api dan abu

Pulau sebuku dikata orang
Ada seribu lebih dan kurang
Orangnya habis nyatalah terang
Tiadalah hidup barang seorang

Rupanya mayat tidak dikatakan
Hamba melihat rasanya pingsan
Apalah lagi yang punya badan
Harapkan rahmat Allah balaskan.

Syair ini konon ditulis oleh Muhammad Saleh, yang menggambarkan kesaksian pribumi atas letusan mahadahsyat tersebut. Saleh menulisnya dalam bahasa Melayu dan dicetak dengan huruf Jawi, lalu diterbitkan pertama kali di Singapura tertanggal 1301 Hijriyah, atau antara November 1883 hingga Oktober 1884.

Naskah ini ditemukan oleh seorang ahli filologi Suryadi, seorang dosen Leyden University 127 tahun kemudian. Naskah langka ini telah berserakan halaman halamannya di lima negara yaitu Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia dan Indonesia.

Dalam syair tersebut dikisahkan bahwa dalam bencana orang masih mau saling tolong-menolong, baik dari kalangan orang Belanda maupun penduduk lokal. Sebaliknya, ada pula yang mencari kesempatan untuk memperkaya diri sendiri dengan mengambil harta orang-orang yang tertimpa musibah.

 

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini