Kusnadi Rahardja dan 'Gurita' Bisnis Sushi Tei dan Kintan Buffet Indonesia

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Buat penggemar kuliner Sushi Tei pasti bertanya-tanya, siapa sih Kusnadi Rahardja? Ya, lulusan MBA di Carnegie Mellon University di Pittsburgh tersebut diduga menjadi penyebab resto tersebut terpaksa meminjam Rp 18 miliar dari bank lain untuk biaya operasional perusahaan.
Akibat perbuatannya, PT Sushi Tei Indonesia (STI) balik menggugat pria yang memblokir rekening bank perusahaan di sejumlah bank. Gugatan itu telah terdaftar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan dengan nomor 656/Pdt.G/2019/PN.Jkt.Sel dengan tudingan melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) berdasarkan Pasal 1365 KUHP Perdata.
Menurut kuasa hukum PT STI James Purba mengatakan Kusnadi seharusnya tidak berhak melakukan pemblokiran di sejumlah bank lantaran ia tidak menjabat lagi sebagai presiden direktur. Keputusan itu diambil melalui Rapat Umum Pemegang Saham di Hotel Dharmawangsa, Jakarta pada 22 Juli 2019 lalu.
Well, buat kalian tahu nih, Kusnadi merupakan otak dari berkembangnya Grup Boga sekaligus pendiri jaringan resto itu. Ia resmi mulai berwirausaha sejak tahun 2002, setelah mendapat kepercayaan untuk membuka Bakerzin di Indonesia.
Sebelum wirausaha, Kusnadi punya pengalaman kerja selama hampir delapan tahun di perusahaan top, seperti Johnson & Johnson dan PT Anugerah Pharmindo Lestari, dengan jabatan terakhir sebagai wakil direktur.
Ia pun memilih mendulang rejeki di ceruk bisnis resto awal tahun 2000. Ia ketika itu memimpikan menghadirkan konsep bersantap baru yang belum ada di negeri ini.
Sebagai langkah awal, ia memilih membawa Bakerzin ke Cilandak Town Square, sebuah resto dengan konsep dessert bar belum ada di Indonesia. Setelah beberapa bulan kemudian, Kusnadi lantas membawa Sushi Tei, yang berkonsep conveyor belt.
Dan yang terbaru, Yang pasti, tahun 2015 Grup Boga mendapatkan lisensi untuk merek resto Shaburi, sedangkan pada 2016 mendapatkan lisensi merek resto Kintan Buffet.
Kata dia, Boga Group berkembang dengan prinsip harus selalu sebagai trend setter ataupun leader, dan bukan follower. Sebagian besar merek resto yang dikembangkan Grup Boga merupakan merek multinasional yang dimiliki prinsipalnya. Ada pula merek resto yang dikembangkan sendiri karena melihat celah pasar yang ada. Contohnya, resto Master Wok.
Di Grup Boga, Kusnadi pun memposisikan semua General Manager sebagai pemimpin dari sebuah strategic business unit dan diberi otoritas. Para GM ini pun diasah oleh Kusnadi agar mempunyai karakteristik yang sesuai dan pemahaman yang mendalam terhadap jiwa dan semangat dari brand yang menjadi tanggung jawabnya.
Alhasil, Grup Boga tetap selalu tumbuh di atas 15 persen per tahun. Banyak pennghargaan yang sudah diterima oleh resto-restonya dari dunia kuliner Indonesia ataupun level Asia. Kini, salah satu yang menimbulkan kepuasan tersendiri baginya, usahanya sudah menjadi penghidupan bagi lebih dari 3.000 karyawan.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini