Mata Indonesia, Kulon Progo – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali merebak di Kulon Progo dan dilaporkan menyerang puluhan ekor sapi.
Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu sejumlah program peternakan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo, terutama penyaluran bantuan hewan ternak.
Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo, Bambang Dwi menyebut program bantuan ternak berupa sapi untuk kelompok peternak merupakan agenda rutin Pemkab.
“Nah di tahun 2026, bantuan tersebut dijadwalkan cair pada pertengahan tahun dengan total 8 ekor sapi senilai Rp77 juta. Namun, meningkatnya kasus PMK membuat program ini berpotensi diubah bahkan dibatalkan,” kata Bambang.
Bambang menilai, jika bantuan sapi tetap disalurkan, risiko penyebaran PMK bisa meningkat karena sapi bantuan umumnya didatangkan dari luar Kulon Progo sebagai indukan.
Menurutnya, ternak dari luar daerah inilah yang berpeluang membawa virus dan memperluas penularan PMK.
Sebagai langkah antisipasi, opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengganti bantuan sapi dengan kambing. Meski kambing juga dapat terpapar PMK, risikonya dinilai lebih kecil dibanding sapi.
Kebijakan serupa pernah dilakukan pada 2025. Saat itu, Pemkab sempat menganggarkan bantuan 8 sapi untuk dua kelompok ternak, tetapi akhirnya tidak jadi direalisasikan karena lonjakan kasus PMK.
Bantuan tersebut kemudian dialihkan menjadi kambing, dan kemungkinan skema yang sama kembali diterapkan pada 2026.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Kulon Progo, Yuriati, menyampaikan bahwa kasus PMK menunjukkan tren naik sejak awal 2026.
“Dalam sepekan terakhir, tercatat 36 sapi terpapar PMK. Meski demikian, belum ada laporan sapi yang mati akibat penyakit tersebut,” kata dia.
Yuriati menambahkan, gejala PMK kali ini cenderung lebih ringan karena peternak sudah lebih memahami langkah pencegahan dan penanganan. Selain itu, banyak sapi telah mendapatkan vaksin PMK, sehingga penyebaran dinilai bisa lebih terkendali.
