MUI : Pernyataan Macron Melecehkan Nabi Muhammad dan Islam

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) ikut mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai karikatur Nabi Muhammad SAW. Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asroroun Niam Soleh, sikap Macron telah melecehkan dan menghina Nabi Muhammad SAW dan agama Islam.

Maka ia pun menyerukan kepada segenap umat Islam Indonesia untuk memboikot produk-produk Prancis. Pemboikotan ini dinilai bisa menjadi salah satu sarana umat Islam membela kehormatan Nabi Muhammad SAW.

“Tujuan penghormatan kepada Baginda Rasulullah, dan mengingatkan akan kesalahan orang yang menistakan Baginda Rasulullah, maka sarana [pemboikotan] itu bisa menjadi wajib,” katanya, Sabtu 31 Oktober 2020.

Ia juga mengatakan, aksi boikot juga menjadi salah satu sarana untuk mengingatkan Macron agar berhati-hati dalam berucap, apalagi menyinggung Nabi Muhammad SAW.

“Sekaligus menyadarkan kesalahan Macron dari apa yang dia lakukan dan kemudian menjadi instrumen agar dia kembali kepada kebenaran, kembali menarik kesalahan yang dia lakukan dan kemudian proses normalisasi kehidupan pergaulan internasional, maka pemboikotan itu menjadi syar’i,” ujarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron menuai kritik lantaran dianggap menghina Islam. Situasi di Prancis sempat memanas sejak tragedi Charlie Hebdo pada 2015 dan berbuntut hingga 2020.

“Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain,” kata Macron awal Oktober 2020 lalu.

Lalu pada 23 Oktober lalu, Macron merespons insiden pemenggalan guru sejarah, Samuel Paty oleh Abdoullakh Abouyezidovitch dengan mengatakan Islam adalah ‘agama yang mengalami krisis di seluruh dunia’. Insiden itu merupakan reaksi dari pembahasan kartun Nabi Muhammad SAW.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini