Kaleidoskop: 7 Kerusuhan Besar yang Terjadi di Indonesia Sepanjang 2019

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejumlah kerusuhan besar terjadi di Indonesia yang menyita perhatian publik sepanjang tahun 2019.

Mata Indonesia News/Minews.id, merangkumnya dalam 7 kerusuhan yang terjadi di Indonesia tahun 2019:

1. Ricuh Mahasiswa Kendari

Pada 11 Maret 2019, terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Halu Oleo di depan Mapolda Sulawesi Tenggara. Massa menuntut Kapolda Sultra Brigjen Iriyanto mencopot Kapolres Kota Kendari AKBP Jemy Junaidi dari jabatannya. Tuntutan ini bermula, saat menggelar aksi di kantor Gubernur Sultra pada 6 Maret 2019, mahasiswa mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari polisi dan petugas Satpol PP.

Masa yang geram, lantas melancarkan aksinya dengan merusak sejumlah fasilitas, memblokir jalan, dan mengancam para pengendara yang hendak melintas. Aksi saling kejar antara massa dan aparat juga terjadi. Kericuhan makin parah terjadi saat polisi membalas lemparan batu mahasiswa, dengan berbagai tembakan peringatan. Dalam kerusuhan ini, dua orang aparat pengamanan mengalami luka akibat terkena lemparan batu.

2. 21-22 Mei 2019 di Jakarta

Penolakan atas hasil penghitungan suara terkait Pilpres 2019 berujung bentrokan antara pendemo yang mendukung capres Prabowo Subianto dengan aparat keamanan. Kerusuhan ini terjadi di beberapa tempat di Jakarta sejak tanggal 21 Mei 2019.

Polri mencatat lebih dari 1.300 orang pendemo yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan ada sembilan orang meninggal dalam kerusuhan di Jakarta. Data tersebut merupakan hasil investigasi Tim Pencari Fakta Komnas HAM dalam kerusuhan Mei 2019.

3. Bentrok di Mesuji Lampung

Bentrok yang terjadi di Mesuji, Lampung pada 17 Juli 2019 yang melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok Mekar Jaya Abadi KHP Register 45 SBM dan kelompok Pematang Panggang Mesuji Raya. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh pembajakan di area lahan seluas setengah hektar milik Yusuf, anggota kelompok Mekar Jaya Abadi, oleh kelompok Pematang Panggang Mesuji Raya.

Massa yang berasal dari dua wilayah yang berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan saling bacok, bahkan ada yang menggunakan senjata api. Sebanyak lima orang dilaporkan tewas dalam bentrokan berdarah di kawasan hutan tanaman industri Register 45.

4. Kerusuhan Penajam Paser Utara (PPU)

Kerusuhan terjadi pada 16 Oktober 2019, bermula saat beberapa waktu sebelumnya terjadi penganiayaan terhadap dua orang dari kelompok PPU, yang menyebabkan salah satunya meninggal. Tidak terima akan hal itu, lantas kelompok PPU melakukan unjuk rasa ke Pelabuhan Penyebrangan. Masa yang tersulut emosi, mengamuk dan melakukan pengerusakan fasilitas dan menghentikan aktifitas penyeberangan.

Kepala Kepolisian Resor Penajam Paser Utara, AKBP Sabil Umar, mengatakan massa yang mengamuk turut membakar ratusan rumah kayu di area pelabuhan PPU. Setidaknya sebanyak 400 rumah menjadi sasaran massa. Dalam kejadian ini, warga diungsikan ketempat yang lebih aman, untuk menghindari massa yang brutal.

5. Kerusuhan di Papua

Aksi dugaan rasisme yang terjadi pada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, menjadi buntut dari kerusuhan di Papua pada 29 Agustus 2019. Sejumlah titik di Papua menjadi pelampiasan atas dugaan rasisme yang terjadi.

Jayapura 29 Agustus 2019: Massa membakar gedung-gedung perkantoran seperti kantor Telkom, Kantor Pos, SPBU, dan kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) yang berlokasi di Jalan Raya Abepura.

Manokwari 19 Agustus 2019: Massa yang brutal lantas membakar Kantor DPRD Papua Barat. Sejumlah fasilitas publik juga dirusak dalam aksi ini dan kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Manokwari sempat terganggu karena aksi tersebut.

Sorong 19-20 Agustus 2019: Dalam aksi ini, massa membakar ban dan mblokade ruas jalan yang berada di Sorong. Bandara Domine Eduard Osok juga tidak luput dari amukan massa. Selain itu, massa juga membakar Lapas Sorong Kota, yang mengakibatkan 258 narapidana melarikan diri.

Timika 21 Agustus 2019: Sejumlah fasilitas mengalami kerusakan dalam aksi di Timika. Seperti perusakan fasilitas di Hotel Grand Mozza, Gedung DPRD Mimika, dan pengerusakan sejumlah kendaraan di sekitar kejadian. Untuk itu aparat menetapkan 10 tersangka yang menjadi dalang dalam kerusuhan.

Fakfak 21 Agustus 2019: Aksi ini terjadi di Jalan Baru dan Pasar Thumburani. Sekitar 500 orang terlibat dalam aksi tersebut. Massa yang brutal juga melakukan pengerusakan di Pasar Thumburani. Sejumlah bangunan, mobil, dan rumah juga menjadi sasaran pengerusakan. Dalam aksi ini dikabarkan satu warga menjadi korban.

6. Demo Mahasiswa Menolak Revisi UU KPK

Mahasiswa menggelar demonstrasi pada 23-24 September 2019, di sejumlah titik di Indonesia. Unjuk rasa tersebut untuk mendesak pemerintah membatalkan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), menunda pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual, dan tuntutan lainnya.

23 September 2019
Sebanyak 2000 masa diantaranya Mahasiswa yang berasal dari universitas di Jakarta dan sekitarnya, berkumpul di depan Gedung DPR RI. Selain itu, para petani juga bergabung dalam acara tersebut untuk memprotes RUU Pertanahan. Aksi ini juga turut diramaikan di kota-kota lain, seperti Bandung, Malang, Yogyakarta, Samarinda, dll.

24 September 2019
Ribuan mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia turut serta dalam aksi tersebut. Masih dalam tuntutan yang sama, para demonstran berupaya untuk bertemu dengan Ketua DPR RI untuk melakukan komunikasi. Namun pertemuan tersebut tidak terjadi, demonstran yang marah lantas mencoba masuk ke area Gedung Parlemen dengan cara merusak pagar.

Aparat keamanan tidak tinggal diam, sejumlah peringatan sudah diberikan hingga menembakkan gas air mata dan water canon kearah demonstran. Sebanyak 254 mahasiswa dan 39 aparat terluka dalam aksi.

7. Kerusuhan di Wamena

Pada 23 September 2019, kerusuhan diduga dipicu oleh rasisme yang berujung pada tawuran pelajar di Wamena. Tawuran tersebut menyebar luas dan ricuh hingga pembakaran sejumlah bangunan seperti rumah dinas, ruko, dan kantor oleh massa.

Tercatat dari data di RSUD Wamena, sejumlah 33 orang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Sementara korban luka-luka mencapai 76 orang. Berdasarkan data dari Kabid Humas Polda Papua, bukan hanya korban jiwa, namun kerugian materil  juga terjadi, karena sebanyak 224 mobil roda 6 dan 4 hangus, 150 motor, 465 ruko hangus, dan 165 rumah dibakar. (Hastina/RyV)

Berita Terbaru

Wujudkan Women Support Women, Bupati Sleman Launching Aksi Putaran Sumringah

SLEMAN – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo meresmikan Aksi Perubahan Pusat Pembelajaran Perempuan Semua Merasa Riang Menggapai Harapan (Putaran...
- Advertisement -

Baca berita yang ini