BMKG: Hari Ini dan Besok, Jabodetabek Bakal Diguyur Hujan Lebat, Masyarakat Diminta Waspada

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bakal dilanda hujan lebat hingga besok Minggu 19 Januari 2020.

“Potensi hujan lebat di wilayah Jabodetabek sejak 17-19 Januari 2020 perlu diwaspadai di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi, Depok dan Bogor,” seperti tertulis dalam situs BMKG.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat hujan tersebut, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

Selain itu, BMKG juga mengimbau agar masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar area pesisir agar waspada terjadi gelombang tinggi.

Hujan lebat ini diakibatkan oleh sirkulasi siklonik di sekitar Selat Karimata yang ada di barat Pulau Kalimantan. Sirkulasi siklonik ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat.

Tingkat labilitas udara yang signifikan juga cukup berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

BMKG juga memperkirakan potensi banjir dan longsor akibat hujan lebat pada periode 17-19 Januari 2020 di wilayah berikut.

Sumatera Barat (siaga), Sumatera Selatan (siaga), Jambi (siaga), Bengkulu (siaga), Jawa Barat (Siaga), Aceh (Waspada), Sumatera Utara (Waspada), Lampung (Waspada), Jawa Tengah (Waspada), Jawa Timur (Waspada), Sulawesi Selatan (Waspada).

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini